Huft.... Aku lelah, benar-benar lelah dengan semua ini. Aku selalu dipandang sebelah mata oleh banyak orang akan statusku karena tujuanku dianggap hanya untuk kepuasan semata. Kata poligami seolah-olah menjadi monster yang menakutkan sekaligus hal yang menjijikkan tanpa melihat apa dibalik terjadinya poligami. Ya seperti yang menimpaku hari ini saat bertemu dengan ibu-ibu penjual sepatu itu. Tanpa A I U Ba Bi Bu, ia langsung menganggapku manusia paling aneh, abnormal.
"Sudah di stasiun Jatibarang ternyata," gumamku.
"Ini kosong kan mas?" tiba-tiba seorang laki-laki berusia kira-kira 40an bertanya padaku.
"Ya, kosong, pak! Baru aja turun," jawabku sambil sedikit tersenyum.
Laki-laki tersebut duduk di depanku.
"Mau ke mana pak?" tanyaku.
"Oh, ini mau ke Jogja," jawabnya dengan logat Jawanya yang khas "Istri saya tiba-tiba sakit, mas, tadi pagi dia nelpon" tambahnya.
"Oh, bapak di sini lagi kerja?" tanyaku.
"Nggak mas, di sini saya dari dua hari yang lalu di rumah istri" jawabnya.
"Lho, kok?" tanyaku singkat (bingung maksudnya).
"Ya, saya ke sini ngunjungi istri saya," jelasnya sambil berhehe ria.
"Poligami?" tanyaku sambil merendahkan suaraku.
Oh Tuhan!!! sepertinya hari ini memang hari poligami buatku. Baru beberapa jam yang lalu aku bertemu dengan orang yang sangat tak suka poligami, sekarang aku bertemu dengan pelaku poligami. "Emang kamu sendiri bukan pelaku poligami?" tanya otak kananku. "hehe, iya ding" jawab otak kiriku.
Laki-laki tersebut yang ternyata bernama Sumaryoto bercerita tentang hidupnya padaku. Dia dulunya adalah seorang sopir pribadi dari seorang pengusahawati yang berasal dari Jogjakarta. Katanya, dia "terpaksa" menjadi sopir setelah beberapa usaha rental kaset bajakannya di Jakarta mengalami kerugian. Karena dia tak ingin anak istrinya tak makan, (yang pasti dia juga gak pengin dirinya sendiri gak makan) maka dengan kemampuan menyopirnya yang lumayan, dia menerima pekerjaan tersebut yang ditawarkan oleh salah satu temannya. Dan dia sangat bersyukur karena ternyata majikannya tersebut sangat baik padanya dan juga keluarganya. Hampir semua kebutuhan hidupnya dan keluarganya, bahkan pendidikan anaknya diurus oleh majikannya.
Dia juga bercerita kalau dia terpaksa menikah untuk yang kedua kalinya. Kok bisa? (hmm.. pertanyaan yang sebenarnya tak perlu aku tanyakan). Setelah dia menjadi sopir pribadi dari pengusahawati tersebut, dia begitu sibuk, terutama di saat majikannya yang waktu itu sudah berusia 34 tahun mau menikah. Dia harus mengantarkan undangan ke sana sini, bikin itu bikin ini, hubungi si Anu hubungi si Ani, dan kesibukan yang lain. Pada saat hari pernikahan sang majikan pun dia tetap sibuk (ya iyalah, masak waktu hari H justru nyantai-nyantai). Dia selalu stand by takut-takut majikannya membutuhkannya. Dengan berdandan rapi, dia berada di depan sebuah masjid di mana akad nikah akan dilangsungkan. Tapi ternyata rencana pernikahan tidak berjalan sesuai rencana. Jadwal yang pada awalnya mempelai pria akan dilangsungkan pukul delapan, sampai pukul sembilan mempelai pria belum juga datang.
Pada pukul 9.30 Sumaryoto dipanggil oleh majikannya dan ditanya apakah ada tanda-tanda kedatangan mempelai pria dan dia pun menjawab kalau tanda-tanda tersebut tidak ada. Sang majikanpun mulai gusar, bingung dan cemas karena sampai jam 10 pun ternyata tetap tak datang, kabar pun tak ada, bahkan hingga kini, kata Sumaryoto, alasan ketidakdatangan sang mempelai pria belum juga terungkap.
Tepat pukul 10.15, sang majikan pun memanggil Sumaryoto.
"Sumaryoto,,, main yuk!"
Maaf, bukan gitu manggilnya. Intinya dia di es em es supaya menghadap majikannya. Saat menghadap majikanya, tanpa basa-basi majikannya bertanya "Sumaryoto, maukah Anda membantu saya?"
"Selama saya bisa saya akan bantu, Bu!" jawabnya mantap. Dia tahu, begitu banyak kebaikan-kebaikan majikannya padanya, dan dengan membantu majikannya baginya merupakan sebuah upaya membalas budi (kok budi yang dibalas, kan belum tentu budi yang salah, halah). Ternyata majikannya tersebut membawa Sumaryoto ke dalam masjid untuk bertemu penghulu yang sudah cukup lama menunggu akad nikah dimulai. Di depan penghulu, majikannya berkata "Bapak penghulu, ini calon suami saya. Mari kita langsungkan akad nikahnya."
Showing posts with label Warna-warna. Show all posts
Showing posts with label Warna-warna. Show all posts
Sunday, May 6, 2012
Wednesday, May 2, 2012
#Day 3: Warna-warna Poligami
"Mas, karcisnya?" tiba-tiba tukang periksa karcis kereta api, aku tak tahu sebutan yang tepat, membuyarkan lamunanku.
"Oh, ini!" jawabku sambil memberikan karcis jurusan Gubeng, Surabaya.
Setelah karcis itu dikembalikan aku pun berkata "Makasih, mas!" sembari ku lanjutkan dalam hati "Makasih telah membuyarkan lamunan saya. Saya muak, saya kesal, kata-kata itu terus terngiang-ngiang di kepala saya" dan dia pun membalasnya dengan senyuman.
"Mas emang gak kasian sama istri tua mas? dia pasti sakit hati mas. Dimadu itu menyakitkan lho Mas. Mas sih laki-laki, coba perempuan, pasti tau tuh gimana mengerikannya dimadu." Kata ibu-ibu penjual sepatu.
Aku sengaja membeli dua sepatu yang sama untuk kedua isriku, itung-itung walaupun ku tak bisa adil setidaknya aku berusaha untuk bisa berbuat adil. Dan dari sinilah asal rasa kesalku muncul.
"Buat anaknya Mas? anaknya kembar ya?" tanya penjual sepatu.
"Bukan Bu, ini buat istri saya," jawabku
"Wah hebat, langsung dibeliin dua," timpalnya
"Bukan Bu, istri saya memang dua dan kebetulan ukurannya juga sama," kataku
"Poligami?" tanyanya dengan nada (pura-pura) tak percaya.
Dan dari situ mulailah dia mengeluarkan kata-kata yang tak memihak padaku, kata-kata yang benar-benar menghujam tajam pantat sanubari (baca: hati). Kata-kata yang seolah-olah menganggapku bodoh, bodoh sebodohnya, walaupun memang sebenarnya aku bodoh, tapi tidak sebodoh yang ia katakan.
Satu pernyataann yang membuat aku langsung meninggalkannya tanpa aku meminta uang kembalian, yaitu "Kenapa sih mas gak jadi orang normal aja dengan hidup yang normal bersama jumlah pasangan yang normal?" Jleeeb.... hati dan jantungku tiba-tiba meleleh, meresap keluar melewati pori-pori daging dan kulit dan terus menembus jaket kulit badakku. Aku pun lekas-lekas mengambil sepatu yang ku beli dan membayarnya. Setengah berlari, aku memegang dadaku sambil sedikit mencondongkan badanku ke belakang berharap lelehan hati dan jantungku tak terus mengalir ke luar.
Bunyi klakson kereta api (bener gak sih namanya klakson? entahlah) tak bisa membuyarkan pikiranku saat aku sudah duduk di kereta, pikiran akan rasa kesal, jengkel, marah, dan muak yang bercampur aduk terus bersenandung ria di kepalaku.
"Emang hidup yang normal itu kayak apa sih Bu?" Kataku mulai bertanya "pasangan yang normal itu gimana? apakah pasangan yang normal itu yang hanya terdiri dari satu istri dan satu suami? jangan salah Bu, sepertinya Ibu harus banyak belajar deh! Hidup atau pasangan yang normal itu gak bisa hanya dilihat dari berapa jumlah istrinya. Emang Ibu gak bisa lihat ya, bukannya banyak contoh-contoh kalau pasangan normal itu bukan berarti satu harus berpasangan dengan satu. Banyak lho contoh-contohnya, ibu aja g bisa ngeliatnya. Kata 'ya' aja pasangannya gak cuma 'tidak' tapi juga 'bukan', bahkan kata 'is' pasangannya ada tiga 'He, She, dan It'. 'Daun' juga sama, dia punya pasangan 'jendela, pintu, dan telinga'," paparku panjang lebar, gak tahu deh jelas enggaknya.
"Wah, kalo itu beda Mas," jawab ibu.
"Beda apanya coba?" tanyaku balik "itu hukum alam bu, mau tidak mau, suka tidak suka pasangan itu tidak selamannya satu dan satu, atau dua dan dua. Gak bisa gitu Bu, justru anggapan ibu bahwa poligami itu gak normal itu yang gak normal, itu yang melanggar hukum alam. Kalau ibu membenci saya, atau entah apalah istilahnya, karena saya punya pasangan lebih dari satu, ibu juga harus membenci setiap hal yang memiliki pasangan lebih dari satu. Kalau ibu menganggap 'ya' pasangannya 'tidak', jangan sekali-kali ibu menggunakan kata 'bukan' karena itu artinya ibu bakal hidup gak normal. Jika ibu menggunakan kata 'is' untuk 'he' cari kata lain buat 'she' dan 'it' (emang dia bisa bahasa Inggris?, entahlah)"
Tapi itu hanyalah percakapan-percakapan dalam lamunanku yang buyar saat tukang periksa karcis datang padaku. Aku tak benar-benar mengatakannya, aku lebih memilih cepat-cepat pergi mengejar kereta api dan menyelamatkan jantung dan hatiku yang meleleh.
Bunyi klakson kereta api (bener gak sih namanya klakson? entahlah) tak bisa membuyarkan pikiranku saat aku sudah duduk di kereta, pikiran akan rasa kesal, jengkel, marah, dan muak yang bercampur aduk terus bersenandung ria di kepalaku.
"Emang hidup yang normal itu kayak apa sih Bu?" Kataku mulai bertanya "pasangan yang normal itu gimana? apakah pasangan yang normal itu yang hanya terdiri dari satu istri dan satu suami? jangan salah Bu, sepertinya Ibu harus banyak belajar deh! Hidup atau pasangan yang normal itu gak bisa hanya dilihat dari berapa jumlah istrinya. Emang Ibu gak bisa lihat ya, bukannya banyak contoh-contoh kalau pasangan normal itu bukan berarti satu harus berpasangan dengan satu. Banyak lho contoh-contohnya, ibu aja g bisa ngeliatnya. Kata 'ya' aja pasangannya gak cuma 'tidak' tapi juga 'bukan', bahkan kata 'is' pasangannya ada tiga 'He, She, dan It'. 'Daun' juga sama, dia punya pasangan 'jendela, pintu, dan telinga'," paparku panjang lebar, gak tahu deh jelas enggaknya.
"Wah, kalo itu beda Mas," jawab ibu.
"Beda apanya coba?" tanyaku balik "itu hukum alam bu, mau tidak mau, suka tidak suka pasangan itu tidak selamannya satu dan satu, atau dua dan dua. Gak bisa gitu Bu, justru anggapan ibu bahwa poligami itu gak normal itu yang gak normal, itu yang melanggar hukum alam. Kalau ibu membenci saya, atau entah apalah istilahnya, karena saya punya pasangan lebih dari satu, ibu juga harus membenci setiap hal yang memiliki pasangan lebih dari satu. Kalau ibu menganggap 'ya' pasangannya 'tidak', jangan sekali-kali ibu menggunakan kata 'bukan' karena itu artinya ibu bakal hidup gak normal. Jika ibu menggunakan kata 'is' untuk 'he' cari kata lain buat 'she' dan 'it' (emang dia bisa bahasa Inggris?, entahlah)"
Tapi itu hanyalah percakapan-percakapan dalam lamunanku yang buyar saat tukang periksa karcis datang padaku. Aku tak benar-benar mengatakannya, aku lebih memilih cepat-cepat pergi mengejar kereta api dan menyelamatkan jantung dan hatiku yang meleleh.
Subscribe to:
Posts (Atom)