Pages

Sunday, May 6, 2012

#Day 6: Warna-Warna Poligami 2

Huft.... Aku lelah, benar-benar lelah dengan semua ini. Aku selalu dipandang sebelah mata oleh banyak orang akan statusku karena tujuanku dianggap hanya untuk kepuasan semata. Kata poligami seolah-olah menjadi monster yang menakutkan sekaligus hal yang menjijikkan tanpa melihat apa dibalik terjadinya poligami. Ya seperti yang menimpaku hari ini saat bertemu dengan ibu-ibu penjual sepatu itu. Tanpa A I U Ba Bi Bu, ia langsung menganggapku manusia paling aneh, abnormal.

"Sudah di stasiun Jatibarang ternyata," gumamku.

"Ini kosong kan mas?" tiba-tiba seorang laki-laki berusia kira-kira 40an bertanya padaku.
"Ya, kosong, pak! Baru aja turun," jawabku sambil sedikit tersenyum.
Laki-laki tersebut duduk di depanku.

"Mau ke mana pak?" tanyaku.

"Oh, ini mau ke Jogja," jawabnya dengan logat Jawanya yang khas "Istri saya tiba-tiba sakit, mas, tadi pagi dia nelpon" tambahnya.

"Oh, bapak di sini lagi kerja?" tanyaku.

"Nggak mas, di sini saya dari dua hari yang lalu di rumah istri" jawabnya.

"Lho, kok?" tanyaku singkat (bingung maksudnya).

"Ya, saya ke sini ngunjungi istri saya," jelasnya sambil berhehe ria.

"Poligami?" tanyaku sambil merendahkan suaraku.

Oh Tuhan!!! sepertinya hari ini memang hari poligami buatku. Baru beberapa jam yang lalu aku bertemu dengan orang yang sangat tak suka poligami, sekarang aku bertemu dengan pelaku poligami. "Emang kamu sendiri bukan pelaku poligami?" tanya otak kananku. "hehe, iya ding" jawab otak kiriku.

Laki-laki tersebut yang ternyata bernama Sumaryoto bercerita tentang hidupnya padaku. Dia dulunya adalah seorang sopir pribadi dari seorang pengusahawati  yang berasal dari Jogjakarta. Katanya, dia "terpaksa" menjadi sopir setelah beberapa usaha rental kaset bajakannya di Jakarta mengalami kerugian. Karena dia tak ingin anak istrinya tak makan, (yang pasti dia juga gak pengin dirinya sendiri gak makan) maka dengan kemampuan menyopirnya yang lumayan, dia menerima pekerjaan tersebut yang ditawarkan oleh salah satu temannya. Dan dia sangat bersyukur karena ternyata majikannya tersebut sangat baik padanya dan juga keluarganya. Hampir semua kebutuhan hidupnya dan keluarganya, bahkan pendidikan anaknya diurus oleh majikannya.

Dia juga bercerita kalau dia terpaksa menikah untuk yang kedua kalinya. Kok bisa? (hmm.. pertanyaan yang sebenarnya tak perlu aku tanyakan). Setelah dia menjadi sopir pribadi dari pengusahawati tersebut, dia begitu sibuk, terutama di saat majikannya yang waktu itu sudah berusia 34 tahun mau menikah. Dia harus mengantarkan undangan ke sana sini, bikin itu bikin ini, hubungi si Anu hubungi si Ani, dan kesibukan yang lain. Pada saat hari pernikahan sang majikan pun dia tetap sibuk (ya iyalah, masak waktu hari H justru nyantai-nyantai). Dia selalu stand by takut-takut majikannya membutuhkannya. Dengan berdandan rapi, dia berada di depan sebuah masjid di mana akad nikah akan dilangsungkan. Tapi ternyata rencana pernikahan tidak berjalan sesuai rencana. Jadwal yang pada awalnya mempelai pria akan dilangsungkan pukul delapan,  sampai pukul sembilan mempelai pria belum juga datang.

Pada pukul 9.30 Sumaryoto dipanggil oleh majikannya dan ditanya apakah ada tanda-tanda kedatangan mempelai pria dan dia pun menjawab kalau tanda-tanda tersebut tidak ada. Sang majikanpun mulai gusar, bingung dan cemas karena sampai jam 10 pun ternyata tetap tak datang, kabar pun tak ada, bahkan hingga kini, kata Sumaryoto, alasan ketidakdatangan sang mempelai pria belum juga terungkap.

Tepat pukul 10.15, sang majikan pun memanggil Sumaryoto.

"Sumaryoto,,, main yuk!"

Maaf, bukan gitu manggilnya. Intinya dia di es em es supaya menghadap majikannya. Saat menghadap majikanya, tanpa basa-basi majikannya bertanya "Sumaryoto, maukah Anda membantu saya?" 
"Selama saya bisa saya akan bantu, Bu!" jawabnya mantap. Dia tahu, begitu banyak kebaikan-kebaikan majikannya padanya, dan dengan membantu majikannya baginya merupakan sebuah upaya membalas budi (kok budi yang dibalas, kan belum tentu budi yang salah, halah). Ternyata majikannya tersebut membawa Sumaryoto ke dalam masjid untuk bertemu penghulu yang sudah cukup lama menunggu akad nikah dimulai. Di depan penghulu, majikannya berkata "Bapak penghulu, ini calon suami saya. Mari kita langsungkan akad nikahnya."

Saturday, May 5, 2012

#Day 5: You Will Never Walk Alone

"If You Can't Support Us When We Draw or Lose, Don't Support Us when We Win" (The Kop)

Ini fakta, bukan cerita yang mengada-ngada. Malam ini tim kesangan saya kalah. Ya, kalah. Tapi tak benar-benar kalah. Dengan penguasaan hampir 80% dan satu gol yang dianulir, tim saya, saya, dan semua para supporter yang mendukungnya harus merelakan tropi FA Cup diambil Chelsea.

Kecewa? ya tentu kecewa. Tapi sebagai Liverpudlian yang belajar menjadi supporter sejati, saya akan tetap mendukung Liverpool bagaimanapun dan apapun yang terjadi tanpa harus mencaci tim lawan, apa lagi menyalahkan tim sendiri, nangis guling-guling semalaman, atau menyesali kekalahan dengan cara nyebur kali, atau yang lebih ekstrim lagi bunuh diri seperti salah satu fans Liverpool saat Liverpool tertinggal 3-0 Mei lima tahun yang lalu, padahal mampu menang pada akhirnya.

Kenapa? karena malam ini Liverpool bukan tidak bermain bagus, hanya keberuntungan sajalah yang belum memihak Liverpool. Saya ingat kata Fernando Torres, salah satu mantan pemain Liverpool yang pindah ke Chelsea, beberapa minggu yang lalu: "Tim terbaik tidak selamanya harus menang." Saya sependapat dengannya. Dengan torehan 18 tropi liga Inggris, 5 liga champion, dan puluhan tropi yang lain masih sangat jauh dibandingkan tropi yang diraih Chelsea yang baru beberapa tropi liga Inggris, dan tak satupun tropi liga champion. Itu artinya Liverpool tetap tim terbaik. Saya bangga dan tak perlu merasa kecewa yang berlebihan hingga membuat saya harus absen dalam mengerjakan projek #30HariBlogging.. Hahaha.


Di akhir tulisan ini, saya ingin menyanyikan lagu kebanggan Liverpool dan kami para Liverpudlian.

When you walk through a storm
Hold your chin up high
And don't be afraid of the dark.
At the end of a storm
Is a golden sky
And the sweet, silver song of a lark.
Walk on, through the wind,
Walk on, through the rain,
Though your dreams be tossed and blown.
Walk on, walk on with hope in your heart,
And you'll never walk alone,
You'll never walk alone.

(Betewe, Suara saya merdu kan? kedengaran gak sih?)




Friday, May 4, 2012

#Day 4: Itu Bukan Sepi

Sepi itu.... 
bukan karena tak ada orang di depan, di belakang, kanan, dan kiri.
Sepi itu....
bukan karena tak ada orang yang tak mau mendengarkan rasa dan apa yang ingin kita bagi.
Sepi itu....
bukan karena tak ada yang mau menemani di saat kita ingin berhenti atau berlari.
Sepi itu....
bukan di saat orang-orang tak mau mengerti dan memahami apa yang terjadi.
Sepi itu....
bukan di saat kita berada di kamar sendiri.
Sepi itu....
bukan ketika malam dan hanya deru kendaraan yang terdengar atau suara jangkrik yang bernyanyi.
Sepi itu....
hmmm... apa lagi?
Sepi itu....
ternyata hanyalah perasaan di hati...
dan yang pasti....
Sepi itu hanya sebuah kata yang diawali 'S' dan diakhiri 'I'

Wednesday, May 2, 2012

#Day 3: Warna-warna Poligami

"Mas, karcisnya?" tiba-tiba tukang periksa karcis kereta api, aku tak tahu sebutan yang tepat, membuyarkan lamunanku.
"Oh, ini!" jawabku sambil memberikan karcis jurusan Gubeng, Surabaya.
Setelah karcis itu dikembalikan aku pun berkata "Makasih, mas!" sembari ku lanjutkan dalam hati "Makasih telah membuyarkan lamunan saya. Saya muak, saya kesal, kata-kata itu terus terngiang-ngiang di kepala saya" dan dia pun membalasnya dengan senyuman.
"Mas emang gak kasian sama istri tua mas? dia pasti sakit hati mas. Dimadu itu menyakitkan lho Mas. Mas sih laki-laki, coba perempuan, pasti tau tuh gimana mengerikannya dimadu." Kata ibu-ibu penjual sepatu.
Aku sengaja membeli dua sepatu yang sama untuk kedua isriku, itung-itung walaupun ku tak bisa adil setidaknya aku berusaha untuk bisa berbuat adil. Dan dari sinilah asal rasa kesalku muncul.
"Buat anaknya Mas? anaknya kembar ya?" tanya penjual sepatu.
"Bukan Bu, ini buat istri saya," jawabku 
"Wah hebat, langsung dibeliin dua," timpalnya
"Bukan Bu, istri saya memang dua dan kebetulan ukurannya juga sama," kataku
"Poligami?" tanyanya dengan nada (pura-pura) tak percaya.
Dan dari situ mulailah dia mengeluarkan kata-kata yang tak memihak padaku, kata-kata yang benar-benar menghujam tajam pantat sanubari (baca: hati). Kata-kata yang seolah-olah menganggapku bodoh, bodoh sebodohnya, walaupun memang sebenarnya aku bodoh, tapi tidak sebodoh yang ia katakan.
Satu pernyataann yang membuat aku langsung meninggalkannya tanpa aku meminta uang kembalian, yaitu "Kenapa sih mas gak jadi orang normal aja  dengan hidup yang normal bersama jumlah pasangan yang normal?" Jleeeb.... hati dan jantungku tiba-tiba meleleh, meresap keluar melewati pori-pori daging dan kulit dan terus menembus jaket kulit badakku. Aku pun lekas-lekas mengambil sepatu yang ku beli dan membayarnya. Setengah berlari, aku memegang dadaku sambil sedikit mencondongkan badanku ke belakang berharap lelehan hati dan jantungku tak terus mengalir ke luar.
Bunyi klakson kereta api (bener gak sih namanya klakson? entahlah) tak bisa membuyarkan pikiranku saat aku sudah duduk di kereta, pikiran akan rasa kesal, jengkel, marah, dan muak yang bercampur aduk terus bersenandung ria di kepalaku.
"Emang hidup yang normal itu kayak apa sih Bu?" Kataku mulai bertanya "pasangan yang normal itu gimana? apakah pasangan yang normal itu yang hanya terdiri dari satu istri dan satu suami? jangan salah Bu, sepertinya Ibu harus banyak belajar deh! Hidup atau pasangan yang normal itu gak bisa hanya dilihat dari berapa jumlah istrinya. Emang Ibu gak bisa lihat ya, bukannya banyak contoh-contoh kalau pasangan normal itu bukan berarti satu harus berpasangan dengan satu. Banyak lho contoh-contohnya, ibu aja g bisa ngeliatnya. Kata 'ya' aja pasangannya gak cuma 'tidak' tapi juga 'bukan', bahkan kata 'is' pasangannya ada tiga 'He, She, dan It'. 'Daun' juga sama, dia punya pasangan 'jendela, pintu, dan telinga'," paparku panjang lebar, gak tahu deh jelas enggaknya.
"Wah, kalo itu beda Mas," jawab ibu.
"Beda apanya coba?" tanyaku balik "itu hukum alam bu, mau tidak mau, suka tidak suka pasangan itu tidak selamannya satu dan satu, atau dua dan dua. Gak bisa gitu Bu, justru anggapan ibu bahwa poligami itu gak normal itu yang gak normal, itu yang melanggar hukum alam. Kalau ibu membenci saya, atau entah apalah istilahnya, karena saya punya pasangan lebih dari satu, ibu juga harus membenci setiap hal yang memiliki pasangan lebih dari satu. Kalau ibu menganggap 'ya' pasangannya 'tidak', jangan sekali-kali ibu menggunakan kata 'bukan' karena itu artinya ibu bakal hidup gak normal. Jika ibu menggunakan kata 'is' untuk 'he' cari kata lain buat 'she' dan 'it' (emang dia bisa bahasa Inggris?, entahlah)"  
Tapi itu hanyalah percakapan-percakapan dalam lamunanku yang buyar saat tukang periksa karcis datang padaku. Aku tak benar-benar mengatakannya, aku lebih memilih cepat-cepat pergi mengejar kereta api dan menyelamatkan jantung dan hatiku yang meleleh.

#Day 2: Cukuplah Jika.....

Jika sudah...
Mengapa kau harus mengalah,
Pada jiwa dan kata yang tak tergugah?
Mungkin bukan dirimu.
Bukan pula bayangmu yang terbelah,
Karena kau titik merah yang terasah.
Jika lelah....
Jangan kau biarkan ia mengerti,
Arti dari mimpi yang tak kau pahami.
Pula detak jantung yang berlari,
Mencari arti yang tak pergi.
Jika penat...
Jangan biarkan dirimu terjerat,
Oleh tatapan mata yang berkarat
Yang tak mampu melihat tiap tetes keringat
Dari dada yang kau pegang erat.
Cukuplah...
Cukuplah kau tertunduk lesu
Oleh deru kolong langit yang menjerit,
Menghimpit hati yang tak sakit,
Dan kau pun harus bangkit.

Tuesday, May 1, 2012

#Day 1: Rasa

"Entah disadari atau tidak, dirasa atau kau campakkan, cinta itu memang benar-benar ada," ungkapnya memulai percakapan. "Hanya saja kau tak mampu menangkapnya atau kau sengaja membiarkannya hilang ditelan oleh angkuhnya perasaanmu yang tak benar-benar mengerti apa itu cinta."
Mendengar ungkapan sahabatnya, Dia menunduk.
"Aku bukan tak mengerti cinta," Dia merespon, "bukan pula aku tak butuh cinta, tapi untuk macam ini, aku harus memikirkannya matang-matang. Ini bukan mainan, bukan pula adonan yang bisa aku aduk serupa mungkin."
"Tapi sikapmu seolah-oleh cinta bukan hal penting bagimu," sanggah sahabatnya.
"Nah, itu dia yang tak kau mengerti dariku," Sanggah Dia
"Kawan, aku sudah mengenalmu bertahun-tahun, berbagi rasa, canda tawa, ceria berduka, suka derita, lapar dahaga, kenyang bersama sudah kita lalui bersama, apa lagi yang harus aku sebutkan? Tapi ternyata kau belum juga menganggapku mengerti dirimu" sahabatnya memprotes.
"Bukan itu maksudku kawan. Tapi soal rasa, siapapun dia, hanya orang yang meresakan perasaan itulah yang benar-benar merasakannya. Ini soal rasa, rasa di hati bukan rasa di lidah. Tak mungkin satu rasa dirasakan oleh dua orang yang berbeda di saat yang bersamaan, kadarnya pasti berbeda. Di saat aku menangis, mungkin kau ikut menangis, tapi tangisanmu dan tangisannku disebabkan oleh dua alasan yang berbeda. Aku menangis karena aku mengalami sesuatu yang membuatku menangis, dan kau menangis, jika kau menangis, karena kau melihatku menangis. Jika aku bahagia, engkaupun mungkin ikut bahagia, bukan karena merasakan apa yang ku alami, tapi karena kau melihatku bahagia." jawab Dia panjang lebar.
Kedua-duanya terdiam lama.
Akhirnya, Dia berdiri. Sambil menarik nafas, Dia menatap kosong redup cahaya bulan yang tertutup awan tipis. Dan sang sahabat tetap duduk tanpa kata-kata.
"Kawan, terimakasih untuk semuanya.  Bukan ku menganggap cinta itu tak ada, bukan pula ku menganggap dirimu jauh di sana, tapi ini rasa. Ya, rasa yang tak sesederhana jumlah katanya."

Friday, April 29, 2011

Tiga Anjing

“Ayah, seharusnya kita tidak lagi memelihara anjing-anjing itu. Mereka tidak memberikan manfaat.” Ujar Marno kepada ayahnya, Pak Barda.

“Ya, seharusnya kita memelihara sapi, Ayah.” Tambah Marni, saudari kembar Marno.

“Dari mana kita mendapatkan sapi, Anakku? Yang kita punya hanya anjing-anjing itu. Lagipula kita bisa memanfaatkan mereka untuk berburu babi hutan untuk kita makan atau kita jual.” Kata Barda.

Aku hanya duduk diam mendengarkan perbincangan mereka, perbincangan yang lebih menyerupai perdebatan. Aku tahu mereka tidak akan begitu mempermasalahkan aku karena aku tidak tanpak seperti anjing-anjing yang mereka pelihara lebih dari lima tahun yang lalu. Yang mereka tahu aku hanyalah peliharaan yang tidak begitu merugikan, karena yang mereka tahu aku adalah pembasmi tikus-tikus yang selalu ingin menghabisi hasil ladang mereka. Itu yang mereka tahu. Diberi makan atau tidak diberi makan, menurut mereka aku akan tetap hidup, tapi tidak dengan anjing-anjing pemburu itu. Anjing-anjing tersebut harus mereka beri makan, jika tidak anjing-anjing tersebut tidak akan mau pergi berburu dan itu akan merugikan mereka karena mereka cukup bergantung terhadap hasil buruan anjing-anjing itu.

Sejak kedatangan anjing-anjing itu, keluarga Barda lebih banyak memperhatikan anjing-anjing tersebut ketimbang aku. Dulu mereka begitu mengelu-elukan aku ketika aku bisa membasmi tikus-tikus yang mau memakan hasil ladang mereka yang mereka simpan di penampungan di bawah atap dapur mereka.

“Babi hutan? Apakah ayah tidak sadar berapa babi hutan yang sudah anjing-anjing itu tangkap seminggu ini?” Tanya Marno, menggurui “hanya satu ekor, itupun anaknya. Padahal di hutan babi-babi hutan itu jumlahnya tidak sedikit.”

“Dan satu ekor anak babi hutan tak cukup untuk memenuhi kebutuhan kita,” Tambah Marni.

“Ya setidaknya kita masih bisa mendapatkan babi hutan,” bela Pak Barda.

Perdebatan dengan pola yang sama inilah yang sering aku dengar setiap Pak Barda mau pergi berburu.

“Menurut Ayah itu cukup, jika tidak seharusnya kalian melakukan sesuatu untuk mencukupi kebutuhan kita.” Tambah Pak Barda.

Pak Barda pun beranjak pergi ke hutan bersama tiga anjingnya yang menatap tajam dan mendengus saat berjalan di depanku. Dengusan itu bukan tak bermakna apa-apa. Aku menganggapnya sebagai ancaman, bau amis dari mulut si Biru dan si Kuning tiga hari yang lalu masih aku ingat saat aku berpapasan dengan mereka ketika mereka mau masuk ke kamar mereka. Ya, kamar mereka. Aku tak menyebutnya kandang karena sejak beberapa minggu yang lalu mereka tidak mau tidur di kandang mereka. Jika mereka dipaksa tidur di kadang mereka, maka keesokan harinya mereka tidak akan mau berburu. Bahkan akhir-akhir ini mereka tidak pernah mau makan tulang yang disediakan oleh Pak Barda, kecuali mereka diberi minum air gula yang dicampur putih air nasi terlebih dahulu, padahal Pak Barda dan keluarganya sendiri cukup susah untuk bisa makan nasi.

“Apa yang kau lihat?” seolah-olah terdengar pertanyaan dari si Biru, sebutan buat anjing yang bermata kebiru-biruan, saat melihat aku berhenti dan memperhatikan mereka, “awas kalau macam-macam!” Tambah dia diikuti gertakan si Kuning dan si Putih.

Mungkin mereka tahu dan aku yakin mereka pasti tahu jika aku mencium bau amis dari mulut mereka sehingga mereka menggertakku demikian. Hal demikian membuatku penasaran dengan apa yang telah mereka lakukan, karena tiga hari yang lalu adalah hari keempat setelah anjing-anjing itu terakhir kali menangkap anak babi hutan.

Pada waktu itu, saat matahari mulai beranjak ke peraduan Pak Barda kembali dari hutan hanya dengan si Putih. Si Kuning dan si Biru tak terlihat bersama-sama. Pak Barda kembali tanpa mendapatkan hasil buruan apapun.

“Kenapa hanya bersama si Putih, Yah?” Tanya Marni.

“Entahlah, Ayah sudah menunggunya berjam-jam tapi yang nampak hanya si Putih.” Jawab Pak Barda.

“Aku sudah bilang kalau ketiga anjing yang kita pelihara tak memberikan manfaat apa-apa kecuali hanya merepotkan saja. Buruan pun tidak mereka dapatkan.” Kata Marno menyalahkan.

“Sebentar lagi pasti mereka kembali.” Ujar Pak Barda.

“Ya, kembali untuk merepotkan kita,” kata Marno ketus.

Pak Barda tak berkata apa-apa. Dia hanya beranjak ke kursi kayu panjang di depan rumahnya dan duduk di atasnya. Sepertinya dia cukup lelah. Tatapannya menerawang jauh ke dalam hutan di depannya. Sebuah tatapan yang menurutku mempunyai dua makna antara tatapan harapan agar kedua anjingnya kembali dan tatapan kebimbangan akan kata-kata anaknya yang baru saja ia dengar.

Saat sang senja mulai samar-samar memudar berganti gelap, Pak Barda berjalan membuka pintu rumahnya, namun tiba-tiba suara gongongan anjing di belakannya membuatnya berbalik. Bukan gonggongan anjing si Putih, tapi si Biru dan si Kuning. Ternyata kedua anjingnya akhirnya kembali. Pak Barda pun langsung menyambutnya.

“Kemana saja kalian berdua?” ujar Pak Barda sambil mengelus-ngelus dan mencium kedua anjing tersebut.

“Seharusnya mereka tak kembali.” Kata Marno diikuti jawaban ya adiknya

Pak Barda tak menghiraukan kata-kata anaknya dan menyuruh anjing-anjingnya masuk ke dalam kamarnya. Pada saat itulah aku berpapasan dengan dengan mereka dan aku mulai merasakan hal yang janggal.

Kejadian seperti ini sebenarnya bukan yang pertama kali. Dua hari sebelumnya hal ini pernah terjadi. Pada waktu itu si Putih dan si Birulah yang kembali terlambat. Namun aku tidak menemukan kejanggalan dari mereka karena waktu itu aku hanya memperhatikan mereka dari atas genteng depan rumah, tempat biasa aku duduk-duduk.

Setelah berpapasan dengan mereka aku berjalan menelusuri pekarangan rumah dan kolam kecil ikan Pak Barda kira-kira 20 meter dari arah sebelah rumahnya. Pada saat menjelang malam, ikan-ikan di kolam Pak Barda biasanya mengumpulkan oksigen dengan cara mengambang di atas permukaan air dan menjulurkan mulutnya. Seperti biasa, aku akan mencari cara agar bisa menangkap setidaknya satu ikan untuk mengisi perutku, namun tidak pada waktu itu. Aku lebih ingin menelusuri asal bau yang samar-samar aku cium. Bau itu aku kira berasal dari arah pohon lebat tidak jauh dari tempat aku berada. Aku memutuskan untuk mencari tahu bau apa itu sebenarnya. Semakin jauh aku melangkah, semakin jelas bau itu. Setelah tepat aku berada di bawah pohon lebat tersebut aku menemukan beberapa potongan daging kecil dan dari situ aku tahu siapa dan apa yang dilakukan oleh ketiga anjing Pak Barda.

Bukan hal yang mengherankan lagi bagiku ketika hari ini kejadian itu terulang lagi. Hari ini Pak Barda juga kembali tanpa hasil buruan dan hanya ditemani oleh si Biru. Rupanya kali ini si Putih dan si Kuning yang bakal pulang terlambat. Seperti biasa Pak Barda duduk di atas kursi kayu depan rumahnya menunggu kedatangan kedua anjingnya. Tepat setelah matahari terbenam kedua anjing tersebut datang.

“Ayah masih tetap ingin memelihara ketiga anjing itu?” Tanya Marno saat ayahnya menyuruh ketiga anjingnya masuk ke kamarnya, “lagipula ayah sudah tahu kalau selama ini anjing-anjing itu tak benar-benar memberikan manfaat.”

“Kenapa ayah bersikukuh untuk tidak menggantinya dengan peliharaan hewan lain?” juga Tanya Marni

Pak Barda hanya diam. Dia tak benar-benar tahu apa yang harus dia lakukan.

“Sudahlah besok anjing-anjing ini kita jual dan kita ganti dengan yang lain.” Kata Marno.

Pak Barda menarik nafas panjang. Tarikan nafasnya menggambarkan kepasrahannya akan rencana yang disampaikan anaknya. Sepertinya dia tak mau menyalahkan anaknya karena kenyataannya ketiga anjing yang dia pelihara memang benar-benar tak begitu memberikan manfaat. Tapi mungkin yang dipikirkannya dan yang menjadi pertanyaan bagi dirinya sendiri adalah hewan ternak seperti apa yang lebih bermanfaat dan seharga dengan ketiga anjing pemburunya itu.

Keesokan harinya, Marno dan Marni benar-benar membawa ketiga anjingnya untuk dijual. Pak Barda akhirnya memasrahkan semuanya kepada anaknya. Dari tatapannya aku menangkap secercah harapan agar apa yang dilakukan anaknya mampu memberikan sedikit perubahan dalam kehidupan mereka.

Setelah dia mengurusi kolam ikannya, Pak Barda duduk di atas kursi depan rumahnya bersamaku di sampingnya menunggu kedatangan kedua anaknya membawa hewan baru. Hari mulai sore dan kedua anaknya belum juga muncul. Pak Barda sesekali menyeruput kopi campur tepung jagungnya. Aku mulai tak sabar ingin tahu hewan apa yang akan di bawa oleh kedua anak Pak Barda.

Tidak lama kemudian, tanpak Marno dan Marni dari kejauhan berjalan ke arah kami dengan membawa hewan. Semakin lama semakin jelas bentuk, jumlah, dan warna hewan yang mereka bawa. Semakin dekat aku semakin tahu apa yang mereka bawa. Yang mereka bawa adalah hewan yang sama dengan jumlah yang sama hanya dengan warna dan corak bulu yang berbeda. Ku tatap wajah Pak Barda, tak ada wajah keheranan yang ku tangkap dari wajahnya dengan apa yang dia lihat.

Monday, March 21, 2011

My Embarrassing Experience

Writing class is the subject that I hate so much. It embarrassed me when I took it in previous semester. Now, let me tell you this.
One day, my teacher asked the student to write anything. Unlike my friends, I am not good at writing. So, it was hard for me to get and idea to write.
When my teacher gave the students to write, I decided sit in the corner and started thinking about a good idea I could write. However, since the time run and run, I couldn't get a good idea still.
My teacher came into the class and ask "are you done?". Oh gosh! I was nervous because I wrote nothing. The time was over but I still tried to find an idea to write.
My teacher asked the students to present their writing in front of the class one by one and they did it well. While my friends were presenting their writing, I tried hard to get the idea. My turn came and my teacher asked me to go forward. You know, what did I write on my paper and read it in front of the class? what I wrote is "I have no idea to write".

Thursday, November 4, 2010

Dia itu


“hmmmm”, ia mendesah diikuti dengan sebuah senyuman, senyuman yang lama tak aku lihat. Ya, setidaknya itu juga yang aku harapkan selama ini, sebuah senyuman yang tulus, sebuah senyuman yang benar-benar bermakna senyuman, bukan sebuah senyuman yang mempunyai makna kebencian, keputus asaan, keprihatinan, dan makna-makna yang bukan makna sebenarnya. Yah, hal ini menjadi sebuah harapan bahwa senyuman yang ia sunggingkan merupakan senyuman yang juga mempunyai makna harapan, yang ku tahu sudah lama ia tak memiliki harapan dan akupun Sudah lama tak pernah menanyakanya karena setiap aku bertanya ia selalu menjawab, “Ah, persetan dengan harapan! Toh harapan yang ku miliki selama ini tak pernah memberi apa yag aku harapkan”.
Tapi hari ini saat ku lihat ia duduk di depan teras kosannya, ia tak tampak seperti biasanya, wajahnya kambali memancarkan aura yang tak pernah aku rasakan sejak ia tak memiliki harapan. “kayaknya ada yang beda nih hari ini”, kataku saat ku duduk di sampingnya.
Ia menoleh dan melemparkan senyumnya padaku. Ia masih diam. Ku coba menerka-nerka apa yang ia pikirkan.
Ia berdiri dan melangkah ke tembok pembatas. Ia duduk di atasnya. “kok gak jawab?” tanyaku saat ia tak memberikan jawaban. Ia tak memberi respon.
Hmmm, dia memang satu-satunya teman aku yang benar-benar tak jelas. Adakalanya aku bisa menerka apa yang ia pikirkan, tapi lebis sering bahkan 90% terkaanku salah total. Munkgin terkaanku yang sekarang pun juga sama.
“senang ya sekarang? Kayaknya dari tadi senyam-senyum terus.. apa sudah punya harapan lagi? Atau senang karena gak ketemu-ketemu harapannya? Atau jangan-jangan punya konsep lain tentang harapan?atau mungkin sudah hilang tuh kata harapan dalam otak mu?” ku cecar ia dengan pertanyaan-pertanyaan yang ku tak tahu apakah ia akan menjawabnya atau malah bertanya balik padaku, entahlah.
Ia tak menjawab, pula tak menanyakan apa-apa padaku. Ia malah melangkah mendekatiku dan duduk disampingku tanpa senyum seperti tadi. “kenapa sih orang ini?” pikirku. Aku semakin dibuat pusing dengan tingkahnya. Rasa beda yang aku rasakan semakin terasa. Sukar sekali untuk ku tebak tentang apa yang ia pikirkan. Jangankan menebak, bertanya saja ia tak menjawab.
Hingga akhirnya akupun merasa rugi memikirkan semua tentang dia sedari tadi, tentang harapan, bahkan pertanyaan-pertanyaan yang ku rangkai satu persatu dengan susah agar mendapat jawaban darinya dan mengobati rasa penasaranku, saat ia berdiri sambil memandangi arlojinya dan berkata, “sory man, dari tadi aku mikirin apa yang bakal aku ajarin hari ini ke murid-muridku. Hmm, sekarang sudah jam setengah lima, saatnya aku pergi ngajar. Ku tinggal dulu ya!”.
“Dasar, Semprul…..!”