Pages

Thursday, May 10, 2012

#Day 10: Fatamorgana

Aku hilang
Tenggelam dalam ingatan yang tak ingin ku genggam
Meringkuk, tertunduk dalam gelap malam
Terhujam kata, rasa yang kau tanam
Lalu, kemana engkau pergi?
Aku di sini menanti bukan mencari
Bukan pula menemani hari-hari tak pasti
Dan menghitung bulir-bulir embun pagi
Aku resah bukan karena kau tak berupa
Tapi karena kau hanya bayang-bayang tak bersuara
Lalu, kemana hendak ku tanya
Cerita jiwa yang dulu membahana
Menyeruak dalam indahnya seluet senja
Apakah pada dinding yang tak bergeming
Atau gemerincing baling-baling kering
Ting, ting...
Oh, aduhai....
Aku lunglai
Tak mampu menyusun setiap helai damai yang kau cerai-berai
Dan segunung harapan yang teruntai   

Tuesday, May 8, 2012

#Day 8: From The Inside

I don't know who to trust no surprise
(Everyone feels so far away from me)
Happy thoughts sift through dust and the lies
(Trying not to break but I'm so tired of this deceit)

(Every time I try to make myself get back up on my feet
(All I ever think about is this)
(All the tiring time between)
(And how trying to put my trust in you just takes so much out of me)

Take everything from the inside and throw it all away
'cause I swear for the last time I won't trust myself with you

Tension is building inside steadily
(Everyone feels so far away from me)
Happy thoughts forcing their way out of me
(Trying not to break but I'm so tired of this deceit)
(Every time I try to make myself get back up on my feet)
(All I ever think about is this)
(All the tiring time between)
(And how trying to put my trust in you just takes so much out of me)

Take everything from the inside and throw it all away
'cause I swear for the last time I won't trust myself with you

I won't waste myself on you
You
You
Waste myself on you
You
You

I'll take everything from the inside and throw it all away
'cause I swear for the last time I won't trust myself with you

Everything from the inside and just throw it all away
'cause I swear for the last time I won't trust myself with you

You
You
Bait-bait di atas bukan puisi karangan saya, tapi sebuah lirik lagu karya group musik rock terkenal mancanegara, Linkin Park, group musik idola saya. From The Inside, itu judul lagunya, merupakan single keempat dari album kedua mereka, Meteora, yang dirilis pada tahun 2004.
Saat pertama kali saya mendengarkan lagunya dan kemudian meresapi liriknya, saya berfikir lagu tersebut merupakan lagu tentang keputus-asaan dan kekecewaan seseorang terhadap seseorang  yang lain, dan saya juga berfikir lagu tersebut tak jauh-jauh dari tema cinta. Hal ini saya lihat dari lirik-liriknya yang menyebutkan bahwa tidak akan ada lagi kepercayaan yang akan diberikan pada seseorang yang telah dipercaya, dan biasanya lagu-lagu yang berkaitan dengan kepercayaan dan kekecewaan ya tidak jauh-jauh dari hubungan percintaan, ya nggak?
Tapi setelah saya melihat klipnya, saya berfikir bahwa penafsiran yang saya sebutkan di atas ternyata kurang pas. Dalam klip tersebut tidak ada sama sekali scenes yang memunculkan kode-kode tentang cinta, justru yang ada adalah riots di mana-mana. Sekelompok orang melakukan pengrusakan dan juga kericuhan dengan aparat seperti yang biasa kita temui dan lihat baik di televisi maupun di jalan-jalan saat ada demonstrasi. Nah, di sinilah saya melihat bahwa ternyata lagu tersebut merupakan sebuah respon terhadap realita yang mana sudah tidak "ada" lagi yang bisa dipercaya karena siapapun yang dipercaya sama-sama tak bisa memberikan kenyamanan, sama-sama merusak kepercayaan tersebut. Berbicara tentang Linkin Park, hampir semua lagu mereka saya suka. Selain lagu-lagunya enak didengar (bagi saya, dan saya yakin begitu juga bagi anda), hampir semua temanya tidak seperti kebanyakan lagu-lagu yang ada yang biasanya berbicara tentang cinta. Tema-tema lagu Linkin Park banyak berkaitan dengan modern condition dan kemanusiaan. Inilah alasan kenapa saya cukup mengidolakan Linkin Park. 
Sulit memahami apa yang saya maksud? Ya, sebenarnya saya juga merasa agak kesulitan untuk mengungkapkan apa yang maksud,, hehe... Tapi, coba deh klik di sini untuk mendengarkan lagu From The Inside, dan untuk melihat klipnya klik di sini.




Monday, May 7, 2012

#Day 7: Hujan, Kemarin dan Dulu

Kemarin sore ku lihat langit begitu gelap merata, tak ada satu pun celah cahaya matahari mampu menembus bumi. Ditambah sedikit hembusan angina sepoi-sepoi.
“Sebentar lagi akan turun hujan,” gumamku.
“Ya, sepertinya begitu,” sahut temanku.
Benar, tak beberapa lama hujan pun turun dengan derasnya, membasahi setiap pepohonan, bangunan, dan seluruh isi alam yang terbuka. Ku tarik nafas dalam-dalam dan ku rasakan kesejukan beserta aroma basah tanah. Sudah lama aku tak benar-benar menikmati turunnya hujan. Sudah lama aku hanya memandang hujan sebagai hal yang biasa yang tak perlu aku nikmati. Bahkan aku lebih sering menganggap hujan sebagai hal yang bisa menghalangi setiap aktivitas yang ingin ku lakukan.
“Yah, hujan lagi,” itulah kalimat yang sering aku lontarkan ketika hujan turun.
Ku lihat bulir-bulir air hujan yang jatuh semakin lama semakin banyak dan akhirnya membentuk genangan air yang sepertinya kebingungan akan mengalir ke mana. Ya, di daerah yang begitu padat seperti ini memang susah bagi air hujan untuk bisa mengalir. Mereka tak bisa memilih arah sesuka hati mereka karena di berbagai arah yang biasanya mereka lewati begitu banyak benda-benda aneh yang menghalangi mereka untuk pergi, sehingga tidak sedikit dari mereka yang memilih diam dan tergenang berjam-jam di jalanan, di depan rumah-rumah, sambil mengantri menunggu panggilan tanah yang meminum mereka sedikit demi sedikit atau terbawa oleh lalu lalang orang dan kendaraan yang menginjak mereka.
Tiba-tiba pandanganku mengarah keluar ruangan ke sepupu kembarku dan kedua adiknya yang sedang tertawa riang bermain-main dengan air hujan. Ku ingat dulu aku sama seperti mereka. Ya, sama seperti mereka yang begitu senang ketika hujan turun. Dan tanpa ragu-ragu aku pun keluar rumah berlari kegirangan. Ya, tanpa ragu-ragu, tanpa berfikir bahwa aku bisa sakit karena hujan-hujanan, walaupun ada sedikit kekhawatiran bahwa bisa saja aku dimarahai orang tuaku. Dan aku tak melihat kekhawatiran itu di muka para sepupuku, karena ku lihat ibu mereka memperhatikan mereka sambil sesekali tersenyum akan tingkah lucu mereka.
“Hujan-hujanan yuk!” ajak temanku.
“Hayuk,” jawabku tanpa ragu-ragu.
Segera aku dan temanku mengganti pakaian dan langsung meluncur keluar menikmati guyuran air hujan. Aku berlari ke arah sepupuku, ku godai mereka satu persatu dan mereka menyambutku dengan gelak tawa. “hahaha,,, hihihi,,,” begitulah kiranya sambutan mereka.
Sepupu kembarku yang berumur lima tahunan berlari  dari ku dan mencari pancuran air yang jatuh dari genteng-genteng bangunan. Adiknya yang berumur tiga tahunan pun menyusul mereka. Tapi tidak dengan sang adik bungsu, dia bahkan berjalan ke arah ibunya karena mungkin merasa tak bisa beraksi seperti kedua kakaknya. Aku pun menghampirinya. “Sini kakak gendong, kamu juga bisa seperti kakakmu” kataku padanya.
Ku bawa dia ke pancuran air yang jatuh deras dari atas genteng dan dia begitu menikmati. Ya, menikmati kenikmatan yang aku tak ingat apakah aku waktu kecil sama-sama menikmati apa yang ia nikmati saat sekarang. Sepertinya tidak, karena setiap hujan akan turun,   orang tuaku, bahkan almarhum bibiku pasti mewanti-wanti untuk tidak hujan-hujanan walaupun akhirnya aku seringkali tetap hujan-hujanan.
Tak terasa sudah hampir satu jam lebih aku dan sepupuku menikmati guyuran air hujan dan ku lihat bibirnya sudah mulai berwarna kebiruan. Aku antar dia ke ibunya.
“Udah dingin ya?” ujar ibunya sambil meraih sepupuku.
Setelah menyerahkan sepupuku, aku bergabung dengan temanku pergi ke tengah lapangan basket yang terletak di depan sebuah sekolah. Aku masih tak ingin berhenti, aku masih ingin menikmati dinginnya guyuran air hujan yang sudah hampir belasan tahun aku tak menikmatinya. Ku duduk, dan kemudian ku rentangkan badanku di atas genangan air. Ku pandangi langit dan kubiarkan butiran air hujan berlompatan di atas wajahku. Ya, aku masih tak ingin berhenti, hingga beberapa menit kemudian hujan pun reda. Tapi aku masih tak mengubah posisiku, karena masih ada satu lagi yang belum aku nikmati. Sesuatu yang biasa aku nikmati setelah hujan turun ketika aku masih kecil.
“Ayo pulang, udah mau maghrib,” temanku mengingatkanku.
Aku berdiri dan beranjak pergi. Tapi setelah beberapa langkah aku menoleh ke belakang, kemudian ku pandangi langit dan aku tetap tak menemukannya.

Sunday, May 6, 2012

#Day 6: Warna-Warna Poligami 2

Huft.... Aku lelah, benar-benar lelah dengan semua ini. Aku selalu dipandang sebelah mata oleh banyak orang akan statusku karena tujuanku dianggap hanya untuk kepuasan semata. Kata poligami seolah-olah menjadi monster yang menakutkan sekaligus hal yang menjijikkan tanpa melihat apa dibalik terjadinya poligami. Ya seperti yang menimpaku hari ini saat bertemu dengan ibu-ibu penjual sepatu itu. Tanpa A I U Ba Bi Bu, ia langsung menganggapku manusia paling aneh, abnormal.

"Sudah di stasiun Jatibarang ternyata," gumamku.

"Ini kosong kan mas?" tiba-tiba seorang laki-laki berusia kira-kira 40an bertanya padaku.
"Ya, kosong, pak! Baru aja turun," jawabku sambil sedikit tersenyum.
Laki-laki tersebut duduk di depanku.

"Mau ke mana pak?" tanyaku.

"Oh, ini mau ke Jogja," jawabnya dengan logat Jawanya yang khas "Istri saya tiba-tiba sakit, mas, tadi pagi dia nelpon" tambahnya.

"Oh, bapak di sini lagi kerja?" tanyaku.

"Nggak mas, di sini saya dari dua hari yang lalu di rumah istri" jawabnya.

"Lho, kok?" tanyaku singkat (bingung maksudnya).

"Ya, saya ke sini ngunjungi istri saya," jelasnya sambil berhehe ria.

"Poligami?" tanyaku sambil merendahkan suaraku.

Oh Tuhan!!! sepertinya hari ini memang hari poligami buatku. Baru beberapa jam yang lalu aku bertemu dengan orang yang sangat tak suka poligami, sekarang aku bertemu dengan pelaku poligami. "Emang kamu sendiri bukan pelaku poligami?" tanya otak kananku. "hehe, iya ding" jawab otak kiriku.

Laki-laki tersebut yang ternyata bernama Sumaryoto bercerita tentang hidupnya padaku. Dia dulunya adalah seorang sopir pribadi dari seorang pengusahawati  yang berasal dari Jogjakarta. Katanya, dia "terpaksa" menjadi sopir setelah beberapa usaha rental kaset bajakannya di Jakarta mengalami kerugian. Karena dia tak ingin anak istrinya tak makan, (yang pasti dia juga gak pengin dirinya sendiri gak makan) maka dengan kemampuan menyopirnya yang lumayan, dia menerima pekerjaan tersebut yang ditawarkan oleh salah satu temannya. Dan dia sangat bersyukur karena ternyata majikannya tersebut sangat baik padanya dan juga keluarganya. Hampir semua kebutuhan hidupnya dan keluarganya, bahkan pendidikan anaknya diurus oleh majikannya.

Dia juga bercerita kalau dia terpaksa menikah untuk yang kedua kalinya. Kok bisa? (hmm.. pertanyaan yang sebenarnya tak perlu aku tanyakan). Setelah dia menjadi sopir pribadi dari pengusahawati tersebut, dia begitu sibuk, terutama di saat majikannya yang waktu itu sudah berusia 34 tahun mau menikah. Dia harus mengantarkan undangan ke sana sini, bikin itu bikin ini, hubungi si Anu hubungi si Ani, dan kesibukan yang lain. Pada saat hari pernikahan sang majikan pun dia tetap sibuk (ya iyalah, masak waktu hari H justru nyantai-nyantai). Dia selalu stand by takut-takut majikannya membutuhkannya. Dengan berdandan rapi, dia berada di depan sebuah masjid di mana akad nikah akan dilangsungkan. Tapi ternyata rencana pernikahan tidak berjalan sesuai rencana. Jadwal yang pada awalnya mempelai pria akan dilangsungkan pukul delapan,  sampai pukul sembilan mempelai pria belum juga datang.

Pada pukul 9.30 Sumaryoto dipanggil oleh majikannya dan ditanya apakah ada tanda-tanda kedatangan mempelai pria dan dia pun menjawab kalau tanda-tanda tersebut tidak ada. Sang majikanpun mulai gusar, bingung dan cemas karena sampai jam 10 pun ternyata tetap tak datang, kabar pun tak ada, bahkan hingga kini, kata Sumaryoto, alasan ketidakdatangan sang mempelai pria belum juga terungkap.

Tepat pukul 10.15, sang majikan pun memanggil Sumaryoto.

"Sumaryoto,,, main yuk!"

Maaf, bukan gitu manggilnya. Intinya dia di es em es supaya menghadap majikannya. Saat menghadap majikanya, tanpa basa-basi majikannya bertanya "Sumaryoto, maukah Anda membantu saya?" 
"Selama saya bisa saya akan bantu, Bu!" jawabnya mantap. Dia tahu, begitu banyak kebaikan-kebaikan majikannya padanya, dan dengan membantu majikannya baginya merupakan sebuah upaya membalas budi (kok budi yang dibalas, kan belum tentu budi yang salah, halah). Ternyata majikannya tersebut membawa Sumaryoto ke dalam masjid untuk bertemu penghulu yang sudah cukup lama menunggu akad nikah dimulai. Di depan penghulu, majikannya berkata "Bapak penghulu, ini calon suami saya. Mari kita langsungkan akad nikahnya."

Saturday, May 5, 2012

#Day 5: You Will Never Walk Alone

"If You Can't Support Us When We Draw or Lose, Don't Support Us when We Win" (The Kop)

Ini fakta, bukan cerita yang mengada-ngada. Malam ini tim kesangan saya kalah. Ya, kalah. Tapi tak benar-benar kalah. Dengan penguasaan hampir 80% dan satu gol yang dianulir, tim saya, saya, dan semua para supporter yang mendukungnya harus merelakan tropi FA Cup diambil Chelsea.

Kecewa? ya tentu kecewa. Tapi sebagai Liverpudlian yang belajar menjadi supporter sejati, saya akan tetap mendukung Liverpool bagaimanapun dan apapun yang terjadi tanpa harus mencaci tim lawan, apa lagi menyalahkan tim sendiri, nangis guling-guling semalaman, atau menyesali kekalahan dengan cara nyebur kali, atau yang lebih ekstrim lagi bunuh diri seperti salah satu fans Liverpool saat Liverpool tertinggal 3-0 Mei lima tahun yang lalu, padahal mampu menang pada akhirnya.

Kenapa? karena malam ini Liverpool bukan tidak bermain bagus, hanya keberuntungan sajalah yang belum memihak Liverpool. Saya ingat kata Fernando Torres, salah satu mantan pemain Liverpool yang pindah ke Chelsea, beberapa minggu yang lalu: "Tim terbaik tidak selamanya harus menang." Saya sependapat dengannya. Dengan torehan 18 tropi liga Inggris, 5 liga champion, dan puluhan tropi yang lain masih sangat jauh dibandingkan tropi yang diraih Chelsea yang baru beberapa tropi liga Inggris, dan tak satupun tropi liga champion. Itu artinya Liverpool tetap tim terbaik. Saya bangga dan tak perlu merasa kecewa yang berlebihan hingga membuat saya harus absen dalam mengerjakan projek #30HariBlogging.. Hahaha.


Di akhir tulisan ini, saya ingin menyanyikan lagu kebanggan Liverpool dan kami para Liverpudlian.

When you walk through a storm
Hold your chin up high
And don't be afraid of the dark.
At the end of a storm
Is a golden sky
And the sweet, silver song of a lark.
Walk on, through the wind,
Walk on, through the rain,
Though your dreams be tossed and blown.
Walk on, walk on with hope in your heart,
And you'll never walk alone,
You'll never walk alone.

(Betewe, Suara saya merdu kan? kedengaran gak sih?)




Friday, May 4, 2012

#Day 4: Itu Bukan Sepi

Sepi itu.... 
bukan karena tak ada orang di depan, di belakang, kanan, dan kiri.
Sepi itu....
bukan karena tak ada orang yang tak mau mendengarkan rasa dan apa yang ingin kita bagi.
Sepi itu....
bukan karena tak ada yang mau menemani di saat kita ingin berhenti atau berlari.
Sepi itu....
bukan di saat orang-orang tak mau mengerti dan memahami apa yang terjadi.
Sepi itu....
bukan di saat kita berada di kamar sendiri.
Sepi itu....
bukan ketika malam dan hanya deru kendaraan yang terdengar atau suara jangkrik yang bernyanyi.
Sepi itu....
hmmm... apa lagi?
Sepi itu....
ternyata hanyalah perasaan di hati...
dan yang pasti....
Sepi itu hanya sebuah kata yang diawali 'S' dan diakhiri 'I'

Wednesday, May 2, 2012

#Day 3: Warna-warna Poligami

"Mas, karcisnya?" tiba-tiba tukang periksa karcis kereta api, aku tak tahu sebutan yang tepat, membuyarkan lamunanku.
"Oh, ini!" jawabku sambil memberikan karcis jurusan Gubeng, Surabaya.
Setelah karcis itu dikembalikan aku pun berkata "Makasih, mas!" sembari ku lanjutkan dalam hati "Makasih telah membuyarkan lamunan saya. Saya muak, saya kesal, kata-kata itu terus terngiang-ngiang di kepala saya" dan dia pun membalasnya dengan senyuman.
"Mas emang gak kasian sama istri tua mas? dia pasti sakit hati mas. Dimadu itu menyakitkan lho Mas. Mas sih laki-laki, coba perempuan, pasti tau tuh gimana mengerikannya dimadu." Kata ibu-ibu penjual sepatu.
Aku sengaja membeli dua sepatu yang sama untuk kedua isriku, itung-itung walaupun ku tak bisa adil setidaknya aku berusaha untuk bisa berbuat adil. Dan dari sinilah asal rasa kesalku muncul.
"Buat anaknya Mas? anaknya kembar ya?" tanya penjual sepatu.
"Bukan Bu, ini buat istri saya," jawabku 
"Wah hebat, langsung dibeliin dua," timpalnya
"Bukan Bu, istri saya memang dua dan kebetulan ukurannya juga sama," kataku
"Poligami?" tanyanya dengan nada (pura-pura) tak percaya.
Dan dari situ mulailah dia mengeluarkan kata-kata yang tak memihak padaku, kata-kata yang benar-benar menghujam tajam pantat sanubari (baca: hati). Kata-kata yang seolah-olah menganggapku bodoh, bodoh sebodohnya, walaupun memang sebenarnya aku bodoh, tapi tidak sebodoh yang ia katakan.
Satu pernyataann yang membuat aku langsung meninggalkannya tanpa aku meminta uang kembalian, yaitu "Kenapa sih mas gak jadi orang normal aja  dengan hidup yang normal bersama jumlah pasangan yang normal?" Jleeeb.... hati dan jantungku tiba-tiba meleleh, meresap keluar melewati pori-pori daging dan kulit dan terus menembus jaket kulit badakku. Aku pun lekas-lekas mengambil sepatu yang ku beli dan membayarnya. Setengah berlari, aku memegang dadaku sambil sedikit mencondongkan badanku ke belakang berharap lelehan hati dan jantungku tak terus mengalir ke luar.
Bunyi klakson kereta api (bener gak sih namanya klakson? entahlah) tak bisa membuyarkan pikiranku saat aku sudah duduk di kereta, pikiran akan rasa kesal, jengkel, marah, dan muak yang bercampur aduk terus bersenandung ria di kepalaku.
"Emang hidup yang normal itu kayak apa sih Bu?" Kataku mulai bertanya "pasangan yang normal itu gimana? apakah pasangan yang normal itu yang hanya terdiri dari satu istri dan satu suami? jangan salah Bu, sepertinya Ibu harus banyak belajar deh! Hidup atau pasangan yang normal itu gak bisa hanya dilihat dari berapa jumlah istrinya. Emang Ibu gak bisa lihat ya, bukannya banyak contoh-contoh kalau pasangan normal itu bukan berarti satu harus berpasangan dengan satu. Banyak lho contoh-contohnya, ibu aja g bisa ngeliatnya. Kata 'ya' aja pasangannya gak cuma 'tidak' tapi juga 'bukan', bahkan kata 'is' pasangannya ada tiga 'He, She, dan It'. 'Daun' juga sama, dia punya pasangan 'jendela, pintu, dan telinga'," paparku panjang lebar, gak tahu deh jelas enggaknya.
"Wah, kalo itu beda Mas," jawab ibu.
"Beda apanya coba?" tanyaku balik "itu hukum alam bu, mau tidak mau, suka tidak suka pasangan itu tidak selamannya satu dan satu, atau dua dan dua. Gak bisa gitu Bu, justru anggapan ibu bahwa poligami itu gak normal itu yang gak normal, itu yang melanggar hukum alam. Kalau ibu membenci saya, atau entah apalah istilahnya, karena saya punya pasangan lebih dari satu, ibu juga harus membenci setiap hal yang memiliki pasangan lebih dari satu. Kalau ibu menganggap 'ya' pasangannya 'tidak', jangan sekali-kali ibu menggunakan kata 'bukan' karena itu artinya ibu bakal hidup gak normal. Jika ibu menggunakan kata 'is' untuk 'he' cari kata lain buat 'she' dan 'it' (emang dia bisa bahasa Inggris?, entahlah)"  
Tapi itu hanyalah percakapan-percakapan dalam lamunanku yang buyar saat tukang periksa karcis datang padaku. Aku tak benar-benar mengatakannya, aku lebih memilih cepat-cepat pergi mengejar kereta api dan menyelamatkan jantung dan hatiku yang meleleh.

#Day 2: Cukuplah Jika.....

Jika sudah...
Mengapa kau harus mengalah,
Pada jiwa dan kata yang tak tergugah?
Mungkin bukan dirimu.
Bukan pula bayangmu yang terbelah,
Karena kau titik merah yang terasah.
Jika lelah....
Jangan kau biarkan ia mengerti,
Arti dari mimpi yang tak kau pahami.
Pula detak jantung yang berlari,
Mencari arti yang tak pergi.
Jika penat...
Jangan biarkan dirimu terjerat,
Oleh tatapan mata yang berkarat
Yang tak mampu melihat tiap tetes keringat
Dari dada yang kau pegang erat.
Cukuplah...
Cukuplah kau tertunduk lesu
Oleh deru kolong langit yang menjerit,
Menghimpit hati yang tak sakit,
Dan kau pun harus bangkit.

Tuesday, May 1, 2012

#Day 1: Rasa

"Entah disadari atau tidak, dirasa atau kau campakkan, cinta itu memang benar-benar ada," ungkapnya memulai percakapan. "Hanya saja kau tak mampu menangkapnya atau kau sengaja membiarkannya hilang ditelan oleh angkuhnya perasaanmu yang tak benar-benar mengerti apa itu cinta."
Mendengar ungkapan sahabatnya, Dia menunduk.
"Aku bukan tak mengerti cinta," Dia merespon, "bukan pula aku tak butuh cinta, tapi untuk macam ini, aku harus memikirkannya matang-matang. Ini bukan mainan, bukan pula adonan yang bisa aku aduk serupa mungkin."
"Tapi sikapmu seolah-oleh cinta bukan hal penting bagimu," sanggah sahabatnya.
"Nah, itu dia yang tak kau mengerti dariku," Sanggah Dia
"Kawan, aku sudah mengenalmu bertahun-tahun, berbagi rasa, canda tawa, ceria berduka, suka derita, lapar dahaga, kenyang bersama sudah kita lalui bersama, apa lagi yang harus aku sebutkan? Tapi ternyata kau belum juga menganggapku mengerti dirimu" sahabatnya memprotes.
"Bukan itu maksudku kawan. Tapi soal rasa, siapapun dia, hanya orang yang meresakan perasaan itulah yang benar-benar merasakannya. Ini soal rasa, rasa di hati bukan rasa di lidah. Tak mungkin satu rasa dirasakan oleh dua orang yang berbeda di saat yang bersamaan, kadarnya pasti berbeda. Di saat aku menangis, mungkin kau ikut menangis, tapi tangisanmu dan tangisannku disebabkan oleh dua alasan yang berbeda. Aku menangis karena aku mengalami sesuatu yang membuatku menangis, dan kau menangis, jika kau menangis, karena kau melihatku menangis. Jika aku bahagia, engkaupun mungkin ikut bahagia, bukan karena merasakan apa yang ku alami, tapi karena kau melihatku bahagia." jawab Dia panjang lebar.
Kedua-duanya terdiam lama.
Akhirnya, Dia berdiri. Sambil menarik nafas, Dia menatap kosong redup cahaya bulan yang tertutup awan tipis. Dan sang sahabat tetap duduk tanpa kata-kata.
"Kawan, terimakasih untuk semuanya.  Bukan ku menganggap cinta itu tak ada, bukan pula ku menganggap dirimu jauh di sana, tapi ini rasa. Ya, rasa yang tak sesederhana jumlah katanya."