Thursday, May 17, 2012
#Day 15: Sahabat Bagiku
Mau tidak mau fungsi definisi hanyalah untuk membatasi. Tanpa definisi segala sesuatu akan menjadi tak pasti. Tanpa definisi, manusia tak akan tahu mana yang kanan mana yang kiri. Dan menurutku, setiap orang bebas untuk mendefinisikan segala hal yang sebenarnya sudah terdefinisikan. Seperti kata "Sahabat" yang begitu banyak sekali orang-orang yang mencoba mendefinisikan apa dan siapa itu sahabat. Ya, "sahabat" memiliki begitu banyak definisi dengan berbagai macam versi, dari "Sahabat adalah matahari. Ia tak kan pernah pergi, sedangkan yang lain hanya sebatas pelangi", "sahabat akan selalu ada tidak hanya di saat suka, tapi juga di saat duka", hingga "Sahabat itu ibarat kencing di celana, orang lain hanya mampu melihat basahnya, tapi kehangatannya hanya kita yang merasakannya", dan masih banyak yang lainnya. Namun, menurutku setiap definisi yang dibuat tentang sahabat, semuanya menuntut (maaf, jika kata tersebut kurang pas, karena aku tak menemukan kata yang lebih pas) pada kesempurnaan, setidaknya memenuhi keinginan orang yang menginginkan seperti apa sahabat. Padahal, menurutku, sesempurna apapun definisi sahabat, sahabat tidak akan pernah sesempurna definisinya.
Bagiku, aku tak ingin mendefinisikan apa dan siapa itu sahabat. Biarkanlah sahabat mendefinisikan dirinya sendiri. Bukan karena aku tak bisa membuat definisi apa dan siapa itu sahabat, tapi yang aku mengerti, sahabat akan lebih indah tanpa terdefinisi, dia akan berwarna-warni melebihi warna-warna pelangi, sehingga dia akan muncul bukan hanya selepas gerimis.
#Day 14: Ya = Tidak
“Ya”.
“Ya”.
“Ya”.
“Ya”.
Itulah yang aku dapatkan. Pada awalnya lebih dari itu bahkan jumlahnya tak pernah aku kira, tapi akhirnya itu hanyalah sebuah jawaban. Ya, hanya sebuah jawaban, bukan sebuah harapan, bukan sebuah keinginan, sebuah kesepemahaman, apalagi sebuah kebutuhan. Sama seperti yang sekarang.
Jujur, aku tidak terbiasa dengan hal seperti ini. Bagiku “Ya” artinya setuju, sepakat, sependapat, seiya-sekata, sepemahaman, dan…. Yang pasti bukan sebuah penolakan. Tapi itu dulu, bukan sekarang, bukan di sini, bukan di tempat aku menunggu bola salju menghampiri.
Aku anggap aku cukup lama, tapi itu semua tak membuatku mampu memahami konsep-konsep yang aku temukan. Walaupun begitu, aku setidaknya tahu, setidaknya mengalami dan menjadikannya pelajaran bahwa kata “ya” yang nyaring yang aku anggap sebagai kata ya, lama kelamaan akan terdengar dan menjadi kata “tidak” pada akhir gema yang menggaung, tanpa terdengar jelas masa transisi perubahannya.
Satu pelajaran yang aku ambil bahwa jika kata “Ya” yang terdengar, janganlah menunggu hingga kata ia berubah menjadi kata “tidak”, karena tanpa ditunggupun ia akan menjadi kata “tidak” dengan sendirinya. Menunggu hanya akan membuat kekecewaan yang lebih dalam.
“Ya”.
“Ya”.
“Ya”.
Itulah yang aku dapatkan. Pada awalnya lebih dari itu bahkan jumlahnya tak pernah aku kira, tapi akhirnya itu hanyalah sebuah jawaban. Ya, hanya sebuah jawaban, bukan sebuah harapan, bukan sebuah keinginan, sebuah kesepemahaman, apalagi sebuah kebutuhan. Sama seperti yang sekarang.
Jujur, aku tidak terbiasa dengan hal seperti ini. Bagiku “Ya” artinya setuju, sepakat, sependapat, seiya-sekata, sepemahaman, dan…. Yang pasti bukan sebuah penolakan. Tapi itu dulu, bukan sekarang, bukan di sini, bukan di tempat aku menunggu bola salju menghampiri.
Aku anggap aku cukup lama, tapi itu semua tak membuatku mampu memahami konsep-konsep yang aku temukan. Walaupun begitu, aku setidaknya tahu, setidaknya mengalami dan menjadikannya pelajaran bahwa kata “ya” yang nyaring yang aku anggap sebagai kata ya, lama kelamaan akan terdengar dan menjadi kata “tidak” pada akhir gema yang menggaung, tanpa terdengar jelas masa transisi perubahannya.
Satu pelajaran yang aku ambil bahwa jika kata “Ya” yang terdengar, janganlah menunggu hingga kata ia berubah menjadi kata “tidak”, karena tanpa ditunggupun ia akan menjadi kata “tidak” dengan sendirinya. Menunggu hanya akan membuat kekecewaan yang lebih dalam.
#Day 13: Aku Ingin Benar-benar Mencintaimu
Tuhan, jika langit-Mu Kau tutup
Dan matahari-Mu meredup
Ku harap aku masih sanggup
Mengingat-Mu, walau udara-Mu tak mampu lagi ku hirup
Tuhan, aku tahu aku tak pernah tahu
Aku mengerti aku tak pernah pahami
Setiap rencana, janji yang Kau beri
Setiap cobaan yang aku alami
Tuhan, aku hanya bisa mengeluh
Menuduh setiap pahit yang aku rengkuh
Adil-Mu padaku tak penuh
Tapi, Tuhan….
Aku masih ingin mencintai-Mu
Merindukan-Mu sepenuh hatiku
Melebihi segenap jiwaku, dengan ulur Tangan-Mu.
Tuesday, May 15, 2012
#Day 12: Khilaf
Biar remuk, remuklah sudah
Karena salah bisa tak terbenah
Entah,,, kadang susah
Walau jiwa sudah terasah
Bukan buta, bukan tak ada rasa
Tapi hanya karena khilaf bicara
Hingga setia berubah menjadi noda
Dan nista cemari cinta
Lalu,,
Yang ada tinggalah sendu
Pilu kelabu, kabut membisu
Dan langit tak lagi biru
Karena salah bisa tak terbenah
Entah,,, kadang susah
Walau jiwa sudah terasah
Bukan buta, bukan tak ada rasa
Tapi hanya karena khilaf bicara
Hingga setia berubah menjadi noda
Dan nista cemari cinta
Lalu,,
Yang ada tinggalah sendu
Pilu kelabu, kabut membisu
Dan langit tak lagi biru
Saturday, May 12, 2012
#Day 11: Tanya Jawab = Jawab Tanya
Aku “tak”
memintamu untuk membaca tulisan ini.
Kawan, (apakah
kau kawanku, setidaknya aku memanggilmu begitu) tulisan ini bukan untuk
berbicara hanya dengan diriku sendiri, tapi juga denganmu. Mungkin apa yang aku
tulis (bicarakan) tak mampu kau pahami karena mungkin aku tak bisa memahami
bagaimana menuliskan sebuah tulisan yang bisa kau pahami, atau sebaliknya. Tapi
itu bukan yang aku maksud. Yang aku maksud adalah aku ingin berbagi sebuah
“pertanyaan”.
Kawan, dulu aku
pernah membaca sebuah tulisan dalam sebuah buku. Tulisan tersebut adalah
“meaning”, pada awalnya aku hanya mendengarnya dan tak pernah menghiraukannya,
namun setelah membacanya aku mulai mencari tahu apa maksud dari kata tersebut,
dan kemudian aku mengetahuinya. Tahukah kau kawan mengapa aku ingin mengetahui
arti dari kata tersebut setelah aku membacanya? Padahal pada saat aku
mendengarnya tak ada keinginan untuk mencari tahu.
Hmmm….
sepertinya sukar rasanya aku menjelaskannya kawan, tapi pernahkah kau bertanya
pada temanmu dengan pertanyaan “apa artinya ‘what does it mean’?” atau “’what
does it mean’ apa artinya?” kemudian temanmu menjawab, “’what does it mean itu
apa artinya”. Ya, mungkin seperti itulah kiranya maksudku.
Maksudku begini,
pertanyaan kadang muncul langsung dengan jawabannya, bahkan kadang pertanyaan
itu sendiri merupakan jawaban dan jawaban merupakan/akan mengundang sebuah
pertanyaan. Lalu?
Lalu mengapa
akhirnya aku mengetahui arti kata “meaning”? karena setalah aku mendapati
tulisan tersebut aku bertanya pada diriku tentang arti “meaning” sedangkan pada
saat aku mendengarnya aku tak mempertanyakannya.
Baik, mungkin
dalam uraian yang lebih simple seperti ini, Kita selamanya tak akan memiliki
sebuah jawaban jika kita tak memiliki sebuah pertanyaan dan tak akan memahami
apa maksud dari sebuah jawaban jika kita tak pernah menanyakannya.
Pertanyaanku
sekarang, kenapa aku menulis tulisan ini dan kenapa kau mau membacanya?
#Tulisan ini aku temukan dalam laptopku di folder yang bernama "Ga Jelas"
Thursday, May 10, 2012
#Day 10: Fatamorgana
Aku hilang
Tenggelam dalam ingatan yang tak ingin ku genggam
Meringkuk, tertunduk dalam gelap malam
Terhujam kata, rasa yang kau tanam
Lalu, kemana engkau pergi?
Aku di sini menanti bukan mencari
Bukan pula menemani hari-hari tak pasti
Dan menghitung bulir-bulir embun pagi
Aku resah bukan karena kau tak berupa
Tapi karena kau hanya bayang-bayang tak bersuara
Lalu, kemana hendak ku tanya
Cerita jiwa yang dulu membahana
Menyeruak dalam indahnya seluet senja
Apakah pada dinding yang tak bergeming
Atau gemerincing baling-baling kering
Ting, ting...
Oh, aduhai....
Aku lunglai
Tak mampu menyusun setiap helai damai yang kau cerai-berai
Dan segunung harapan yang teruntai
Tuesday, May 8, 2012
#Day 8: From The Inside
I don't know who to trust no surprise
(Everyone feels so far away from me)
Happy thoughts sift through dust and the lies
(Trying not to break but I'm so tired of this deceit)
(Every time I try to make myself get back up on my feet
(All I ever think about is this)
(All the tiring time between)
(And how trying to put my trust in you just takes so much out of me)
Take everything from the inside and throw it all away
'cause I swear for the last time I won't trust myself with you
Tension is building inside steadily
(Everyone feels so far away from me)
Happy thoughts forcing their way out of me
(Trying not to break but I'm so tired of this deceit)
(Every time I try to make myself get back up on my feet)
(All I ever think about is this)
(All the tiring time between)
(And how trying to put my trust in you just takes so much out of me)
Take everything from the inside and throw it all away
'cause I swear for the last time I won't trust myself with you
I won't waste myself on you
You
You
Waste myself on you
You
You
I'll take everything from the inside and throw it all away
'cause I swear for the last time I won't trust myself with you
Everything from the inside and just throw it all away
'cause I swear for the last time I won't trust myself with you
You
You
(Everyone feels so far away from me)
Happy thoughts sift through dust and the lies
(Trying not to break but I'm so tired of this deceit)
(Every time I try to make myself get back up on my feet
(All I ever think about is this)
(All the tiring time between)
(And how trying to put my trust in you just takes so much out of me)
Take everything from the inside and throw it all away
'cause I swear for the last time I won't trust myself with you
Tension is building inside steadily
(Everyone feels so far away from me)
Happy thoughts forcing their way out of me
(Trying not to break but I'm so tired of this deceit)
(Every time I try to make myself get back up on my feet)
(All I ever think about is this)
(All the tiring time between)
(And how trying to put my trust in you just takes so much out of me)
Take everything from the inside and throw it all away
'cause I swear for the last time I won't trust myself with you
I won't waste myself on you
You
You
Waste myself on you
You
You
I'll take everything from the inside and throw it all away
'cause I swear for the last time I won't trust myself with you
Everything from the inside and just throw it all away
'cause I swear for the last time I won't trust myself with you
You
You
Bait-bait di atas bukan puisi karangan saya, tapi sebuah lirik lagu karya group musik rock terkenal mancanegara, Linkin Park, group musik idola saya. From The Inside, itu judul lagunya, merupakan single keempat dari album kedua mereka, Meteora, yang dirilis pada tahun 2004.
Saat pertama kali saya mendengarkan lagunya dan kemudian meresapi liriknya, saya berfikir lagu tersebut merupakan lagu tentang keputus-asaan dan kekecewaan seseorang terhadap seseorang yang lain, dan saya juga berfikir lagu tersebut tak jauh-jauh dari tema cinta. Hal ini saya lihat dari lirik-liriknya yang menyebutkan bahwa tidak akan ada lagi kepercayaan yang akan diberikan pada seseorang yang telah dipercaya, dan biasanya lagu-lagu yang berkaitan dengan kepercayaan dan kekecewaan ya tidak jauh-jauh dari hubungan percintaan, ya nggak?
Tapi setelah saya melihat klipnya, saya berfikir bahwa penafsiran yang saya sebutkan di atas ternyata kurang pas. Dalam klip tersebut tidak ada sama sekali scenes yang memunculkan kode-kode tentang cinta, justru yang ada adalah riots di mana-mana. Sekelompok orang melakukan pengrusakan dan juga kericuhan dengan aparat seperti yang biasa kita temui dan lihat baik di televisi maupun di jalan-jalan saat ada demonstrasi. Nah, di sinilah saya melihat bahwa ternyata lagu tersebut merupakan sebuah respon terhadap realita yang mana sudah tidak "ada" lagi yang bisa dipercaya karena siapapun yang dipercaya sama-sama tak bisa memberikan kenyamanan, sama-sama merusak kepercayaan tersebut. Berbicara
tentang Linkin Park, hampir semua lagu mereka saya suka. Selain
lagu-lagunya enak didengar (bagi saya, dan saya yakin begitu juga bagi
anda), hampir semua temanya tidak seperti kebanyakan lagu-lagu yang ada
yang biasanya berbicara tentang cinta. Tema-tema lagu Linkin Park banyak berkaitan dengan modern condition dan kemanusiaan. Inilah alasan kenapa saya cukup
mengidolakan Linkin Park.
Monday, May 7, 2012
#Day 7: Hujan, Kemarin dan Dulu
Kemarin sore ku lihat langit begitu gelap merata, tak ada satu pun celah cahaya matahari mampu menembus bumi. Ditambah sedikit hembusan angina sepoi-sepoi.
“Sebentar lagi akan turun hujan,” gumamku.
“Ya, sepertinya begitu,” sahut temanku.
Benar, tak beberapa lama hujan pun turun dengan derasnya, membasahi setiap pepohonan, bangunan, dan seluruh isi alam yang terbuka. Ku tarik nafas dalam-dalam dan ku rasakan kesejukan beserta aroma basah tanah. Sudah lama aku tak benar-benar menikmati turunnya hujan. Sudah lama aku hanya memandang hujan sebagai hal yang biasa yang tak perlu aku nikmati. Bahkan aku lebih sering menganggap hujan sebagai hal yang bisa menghalangi setiap aktivitas yang ingin ku lakukan.
“Yah, hujan lagi,” itulah kalimat yang sering aku lontarkan ketika hujan turun.
Ku lihat bulir-bulir air hujan yang jatuh semakin lama semakin banyak dan akhirnya membentuk genangan air yang sepertinya kebingungan akan mengalir ke mana. Ya, di daerah yang begitu padat seperti ini memang susah bagi air hujan untuk bisa mengalir. Mereka tak bisa memilih arah sesuka hati mereka karena di berbagai arah yang biasanya mereka lewati begitu banyak benda-benda aneh yang menghalangi mereka untuk pergi, sehingga tidak sedikit dari mereka yang memilih diam dan tergenang berjam-jam di jalanan, di depan rumah-rumah, sambil mengantri menunggu panggilan tanah yang meminum mereka sedikit demi sedikit atau terbawa oleh lalu lalang orang dan kendaraan yang menginjak mereka.
Tiba-tiba pandanganku mengarah keluar ruangan ke sepupu kembarku dan kedua adiknya yang sedang tertawa riang bermain-main dengan air hujan. Ku ingat dulu aku sama seperti mereka. Ya, sama seperti mereka yang begitu senang ketika hujan turun. Dan tanpa ragu-ragu aku pun keluar rumah berlari kegirangan. Ya, tanpa ragu-ragu, tanpa berfikir bahwa aku bisa sakit karena hujan-hujanan, walaupun ada sedikit kekhawatiran bahwa bisa saja aku dimarahai orang tuaku. Dan aku tak melihat kekhawatiran itu di muka para sepupuku, karena ku lihat ibu mereka memperhatikan mereka sambil sesekali tersenyum akan tingkah lucu mereka.
“Hujan-hujanan yuk!” ajak temanku.
“Hayuk,” jawabku tanpa ragu-ragu.
Segera aku dan temanku mengganti pakaian dan langsung meluncur keluar menikmati guyuran air hujan. Aku berlari ke arah sepupuku, ku godai mereka satu persatu dan mereka menyambutku dengan gelak tawa. “hahaha,,, hihihi,,,” begitulah kiranya sambutan mereka.
Sepupu kembarku yang berumur lima tahunan berlari dari ku dan mencari pancuran air yang jatuh dari genteng-genteng bangunan. Adiknya yang berumur tiga tahunan pun menyusul mereka. Tapi tidak dengan sang adik bungsu, dia bahkan berjalan ke arah ibunya karena mungkin merasa tak bisa beraksi seperti kedua kakaknya. Aku pun menghampirinya. “Sini kakak gendong, kamu juga bisa seperti kakakmu” kataku padanya.
Ku bawa dia ke pancuran air yang jatuh deras dari atas genteng dan dia begitu menikmati. Ya, menikmati kenikmatan yang aku tak ingat apakah aku waktu kecil sama-sama menikmati apa yang ia nikmati saat sekarang. Sepertinya tidak, karena setiap hujan akan turun, orang tuaku, bahkan almarhum bibiku pasti mewanti-wanti untuk tidak hujan-hujanan walaupun akhirnya aku seringkali tetap hujan-hujanan.
Tak terasa sudah hampir satu jam lebih aku dan sepupuku menikmati guyuran air hujan dan ku lihat bibirnya sudah mulai berwarna kebiruan. Aku antar dia ke ibunya.
“Udah dingin ya?” ujar ibunya sambil meraih sepupuku.
Setelah menyerahkan sepupuku, aku bergabung dengan temanku pergi ke tengah lapangan basket yang terletak di depan sebuah sekolah. Aku masih tak ingin berhenti, aku masih ingin menikmati dinginnya guyuran air hujan yang sudah hampir belasan tahun aku tak menikmatinya. Ku duduk, dan kemudian ku rentangkan badanku di atas genangan air. Ku pandangi langit dan kubiarkan butiran air hujan berlompatan di atas wajahku. Ya, aku masih tak ingin berhenti, hingga beberapa menit kemudian hujan pun reda. Tapi aku masih tak mengubah posisiku, karena masih ada satu lagi yang belum aku nikmati. Sesuatu yang biasa aku nikmati setelah hujan turun ketika aku masih kecil.
“Ayo pulang, udah mau maghrib,” temanku mengingatkanku.
Aku berdiri dan beranjak pergi. Tapi setelah beberapa langkah aku menoleh ke belakang, kemudian ku pandangi langit dan aku tetap tak menemukannya.
“Sebentar lagi akan turun hujan,” gumamku.
“Ya, sepertinya begitu,” sahut temanku.
Benar, tak beberapa lama hujan pun turun dengan derasnya, membasahi setiap pepohonan, bangunan, dan seluruh isi alam yang terbuka. Ku tarik nafas dalam-dalam dan ku rasakan kesejukan beserta aroma basah tanah. Sudah lama aku tak benar-benar menikmati turunnya hujan. Sudah lama aku hanya memandang hujan sebagai hal yang biasa yang tak perlu aku nikmati. Bahkan aku lebih sering menganggap hujan sebagai hal yang bisa menghalangi setiap aktivitas yang ingin ku lakukan.
“Yah, hujan lagi,” itulah kalimat yang sering aku lontarkan ketika hujan turun.
Ku lihat bulir-bulir air hujan yang jatuh semakin lama semakin banyak dan akhirnya membentuk genangan air yang sepertinya kebingungan akan mengalir ke mana. Ya, di daerah yang begitu padat seperti ini memang susah bagi air hujan untuk bisa mengalir. Mereka tak bisa memilih arah sesuka hati mereka karena di berbagai arah yang biasanya mereka lewati begitu banyak benda-benda aneh yang menghalangi mereka untuk pergi, sehingga tidak sedikit dari mereka yang memilih diam dan tergenang berjam-jam di jalanan, di depan rumah-rumah, sambil mengantri menunggu panggilan tanah yang meminum mereka sedikit demi sedikit atau terbawa oleh lalu lalang orang dan kendaraan yang menginjak mereka.
Tiba-tiba pandanganku mengarah keluar ruangan ke sepupu kembarku dan kedua adiknya yang sedang tertawa riang bermain-main dengan air hujan. Ku ingat dulu aku sama seperti mereka. Ya, sama seperti mereka yang begitu senang ketika hujan turun. Dan tanpa ragu-ragu aku pun keluar rumah berlari kegirangan. Ya, tanpa ragu-ragu, tanpa berfikir bahwa aku bisa sakit karena hujan-hujanan, walaupun ada sedikit kekhawatiran bahwa bisa saja aku dimarahai orang tuaku. Dan aku tak melihat kekhawatiran itu di muka para sepupuku, karena ku lihat ibu mereka memperhatikan mereka sambil sesekali tersenyum akan tingkah lucu mereka.
“Hujan-hujanan yuk!” ajak temanku.
“Hayuk,” jawabku tanpa ragu-ragu.
Segera aku dan temanku mengganti pakaian dan langsung meluncur keluar menikmati guyuran air hujan. Aku berlari ke arah sepupuku, ku godai mereka satu persatu dan mereka menyambutku dengan gelak tawa. “hahaha,,, hihihi,,,” begitulah kiranya sambutan mereka.
Sepupu kembarku yang berumur lima tahunan berlari dari ku dan mencari pancuran air yang jatuh dari genteng-genteng bangunan. Adiknya yang berumur tiga tahunan pun menyusul mereka. Tapi tidak dengan sang adik bungsu, dia bahkan berjalan ke arah ibunya karena mungkin merasa tak bisa beraksi seperti kedua kakaknya. Aku pun menghampirinya. “Sini kakak gendong, kamu juga bisa seperti kakakmu” kataku padanya.
Ku bawa dia ke pancuran air yang jatuh deras dari atas genteng dan dia begitu menikmati. Ya, menikmati kenikmatan yang aku tak ingat apakah aku waktu kecil sama-sama menikmati apa yang ia nikmati saat sekarang. Sepertinya tidak, karena setiap hujan akan turun, orang tuaku, bahkan almarhum bibiku pasti mewanti-wanti untuk tidak hujan-hujanan walaupun akhirnya aku seringkali tetap hujan-hujanan.
Tak terasa sudah hampir satu jam lebih aku dan sepupuku menikmati guyuran air hujan dan ku lihat bibirnya sudah mulai berwarna kebiruan. Aku antar dia ke ibunya.
“Udah dingin ya?” ujar ibunya sambil meraih sepupuku.
Setelah menyerahkan sepupuku, aku bergabung dengan temanku pergi ke tengah lapangan basket yang terletak di depan sebuah sekolah. Aku masih tak ingin berhenti, aku masih ingin menikmati dinginnya guyuran air hujan yang sudah hampir belasan tahun aku tak menikmatinya. Ku duduk, dan kemudian ku rentangkan badanku di atas genangan air. Ku pandangi langit dan kubiarkan butiran air hujan berlompatan di atas wajahku. Ya, aku masih tak ingin berhenti, hingga beberapa menit kemudian hujan pun reda. Tapi aku masih tak mengubah posisiku, karena masih ada satu lagi yang belum aku nikmati. Sesuatu yang biasa aku nikmati setelah hujan turun ketika aku masih kecil.
“Ayo pulang, udah mau maghrib,” temanku mengingatkanku.
Aku berdiri dan beranjak pergi. Tapi setelah beberapa langkah aku menoleh ke belakang, kemudian ku pandangi langit dan aku tetap tak menemukannya.
Subscribe to:
Posts (Atom)
