Pages

Saturday, May 19, 2012

#Day 18: Three Conditional Sentences

If the world had no sun
We would have no some fun
If we live without friend
We obviously can't stand
If there were no word
There'd be no world  

Friday, May 18, 2012

#Day 17: Myths and Facts on 17

Karena postingan ini merupakan postingan ke-17 dari #30HariBlogging, maka saya akan memposting tentang hal-hal yang berkaitan dengan angka 17, dan berikut ini merupakan fakta-fakta dan mitos-mitos menarik di balik angka dan tanggal 17:
1.   Al-Quran diturunkan pada tanggal 17 Ramadan
2.   Peringatan Isro' Mi'roj jatuh pada tanggal 17 Rajab
3.   Kisah tentang Isro' Mi'roj diceritakan dalam Al-Quran di surat ke-17 (Al-Isro')
4.   Jumlah keseluruhan rakaat shalat sehari semalam adalah 17 rakaat
5.   Tanggal 17 Agustus merupakan hari kemerdekaan Indonesia. Republik Gabon juga hari kemerdekaannya pada tanggal dan bulan yang sama dengan Indonesia, hanya tahunnya yang berbeda, yaitu 1960. Selain itu ada beberapa negara yang juga hari kemerdekaanya pada tanggal 17, yaitu Irlandia (Maret), Syria (April), Norwegia (Mei), Islandia (Juni), dan Korea Selatan (Juli). Uniknya jumlah negara yang hari kemerdekaannya sama pada tanggal 17 berjumlah 7.
6.   Peringatan hari kemerdekaan Indonesia yang pertama kali pada tanggal 17 Agustus 1945 bertepatan dengan  tanggal 17 Ramadan. Pada tahun 2011, tanggal 17 Agustus juga bertepatan pada tanggal 17 Ramadan.

7.   Tanggal 17 Februari 1950 merupakan hari bersejarah bagi rakyat Bekasi (pasti orang Bekasi sekarang banyak yang ga tahu), karena pada tanggal tersebut rakyat Bekasi menuntut pemerintah untuk mengubah Kabupaten Jatinegara menjadi Kabupaten Bekasi.
8.   Angka 17 dianggap angka yang unik dan banyak orang yang menganggapnya keramat karena merupakan gabungan dari angka 1 yang berarti Maha Esa, Maha Agung, dan Maha Satu, dan angka 7. Angka 7 sendiri memiliki keunikan tersendiri karena banyak elemen-elemen di dunia ini yang tersusun dan terbentuk dalam 7 jumlah, seperti 7 keajaiban dunia, tujuh lapisan bumi dan langit, tujuh benua, 7 samudra, 7 hari dalam 1 minggu.  
9.   Pakar matematika Prancis Jean-le-Rond d’Alembert lahir tanggal 17 Mei 1717
10. Phobia terhadap angka 17 disebut sebagai “heptadecaphobia” atau “heptakaidekaphobia”
11.  Dalam kebudayaan Italia , 17 dianggap sebagai angka sial. Gedung-gedung di Italia tidak punya lantai 17, hotel tidak punya kamar nomor 17 , dan pesawat Aitalia (juga Bristish airway concordes) tidak punya kursi nomor 17
12.  Judul  asli lagu “I Saw Her Standing There” karya The Beatles adalah Seventeen
13.  Ketika sesorang tersenyum maka ia menggunakan 17 otot wajah yang berbeda
14.  Usia 17, kemudian sering dikenal dengan istilah Sweet Seventeen,  merupakan usia yang banyak ditunggu-tunggu para remaja di zaman ini, karena pada usia tersebut, mereka merasa akan lebih bebas dalam melakukan berbagai hal karena sudah dianggap dewasa.
15.  Usia 17 juga merupakan patokan yang digunakan oleh banyak negara untuk mewajibkan mereka memiliki Kartu Identitas Penduduk.
16.  Usia 17 adalah usia minimal bagi seseorang untuk diperbolehkan memiliki Surat Izin Mengemudi (SIM)
17.  Perdana Menteri pertama Bangladesh, lahir pada 17 Mei 1920, yang terkenal bijaksana memiliki seorang titisan yang lahir di Indonesia pada 17 April (bertepatan dengan tanggal 17 Sya'ban) pada tahun 1987 dengan nama yang sama, Mujibur Rohman (haha... jangan terlalu serius bacanya)


*) Dari Berbagai Sumber

#Day 9: Manusia Sahabat Kesalahan

Percaya atau tidak semua pasti percaya (lho, mulai-mulainya kok gini) kalo manusia itu memang tempatnya salah dan lupa, baik disengaja atau tidak. Cuma Allah yang gak pernah salah ma lupa. Tahu dari mana? ya kalo soal ini mah nyari jawabannya gak perlu harus buka-buka berbagai macam referensi, tinggal tanya ja ma diri sendiri berapa kesalahan yang dah kita lakuin sehari ini ama Tuhan atau ama manusia, pasti harus mikir-mikir dulu berpuluh-puluh kali baru ketemu, itupun kalo ketemu, atau pura-pura gak ketemu. Wah, kalo pura-pura g ketemu berarti mau bikin kesalahan baru nih.

Yang pasti namanya kesalahan n lupa g bakal jauh-jauh dari kita, sekuat apapun usaha kita tetap aja kita gak bakal terlepas dari kesalahan. Ya, setidak-tidaknya kalo dah berusaha banget tuk gak berbuat salah jatuh-jatuhnya jadi kesalahan yang gak disengaja. Misalnya, saat kita lagi ngobrol terus becanda-becanda ma temen, tanpa disengaja waktu kita ngomongin sesuatu yang kita anggap becandaan ada temen kita yang merasa tersinggung. Terus itu kesalahan ga? kan itu g disengaja? Ya, kalo menurutku sih kesalahan ya tetep kesalahan yang seharusnya kita minta maaf dengan kesalahan itu. Bukan berarti kesalahan akan berubah menjadi bukan kesalahan lantaran kita g sengaja. Tetep aja kesalahan cuma kadar/derajat/level kesalahannya beda ama yang disengaja.

Berarti manusia bakal salah mulu donk? Ya, kalo menurutku begitu. Ya percuma donk kita berusaha wat gak salah kalo gitu? ya udah salah ya salah ga usah dipikirin buat ngebenerinnya. ya, bukan gitu juga kali. Kalo menurutku tetap saja yang paling berpengaruh dalam penilaian salah enggaknya itu niat dan sekuat apa kita tuk gak berbuat kesalahan. Karena lawannya salah ya bener, itu dah jelas, apa coba lawannya salah kalo bukan bener? itu udah jelas. Cuma salah dan benernya manusia itu kadang sering gak jelas. Ya, kayak yang aku contohin di atas, ada orang marah gara-gara becandaan kita, padahal niat kita becanda lho. Terus kita masih mo ngerasa bener gitu karena kita sebenernya kita ga  punya niatan wat bikin dia tersinggung? Ya kalo menurutku lebih baik minta maaf ma dia, kan bisa jadi kadar becandaan kita ma dia beda, kalo kadarnya dah salah ya hasilnya juga ga bakal bener, toh kita juga yang ngungkapin becandaannya, toh juga gak ada salahnya minta maaf.

Ya, intinya yang pertama "Lebih baik merasa salah tapi bener daripada mengaku bener tapi salah". Terus inti yang kedua mau gak mau akupun juga harus ngaku salah (wah ga ikhlas nih kok pake kata "mau gak mau"? gak, ihklas banget). Emang apa salahnya? Salahnya, aku salah ngitung jumlah postinganku, ternyata aku belum ngepost wat Day 9. Sorry ya teman-teman aku tak sengaja, jadinya Day 9 nya aku postingin sekarang.  Aku baru tahu setelah aku itung2 lagi, kok kurang satu. Eh, ternyata Day 9 gak ada. Sorry banget,,,,!!!

Oh, maksud dari tadi muter-muter cuma mo bilang ini tah? hahaha.... Ya, kalo mo dianggap gitu ku pikir gak salah, yang penting aku dah ngaku kalo aku lupa and salah ngitung, jadi aku lunasin sekalian, daripada aku punya hutang? ya gak?

Thursday, May 17, 2012

#Day 16: If Someday

If someday I'd see

You won't be with me

I would not regret

For you're not the secret


I hope you're in the flight

And the sun rises bright

so let me in the light

And I'll give you a sight

I know you have your life

and I have my own hive

so that I should agree

Everyone needs to be free

#Day 15: Sahabat Bagiku

Mau tidak mau fungsi definisi hanyalah untuk membatasi. Tanpa definisi segala sesuatu akan menjadi tak pasti. Tanpa definisi, manusia tak akan tahu mana yang kanan mana yang kiri. Dan menurutku, setiap orang bebas untuk mendefinisikan segala hal yang sebenarnya sudah terdefinisikan. Seperti kata "Sahabat" yang begitu banyak sekali orang-orang yang mencoba mendefinisikan apa dan siapa itu sahabat. Ya, "sahabat" memiliki begitu banyak definisi dengan berbagai macam versi, dari "Sahabat adalah matahari. Ia tak kan pernah pergi, sedangkan yang lain hanya sebatas pelangi", "sahabat akan selalu ada tidak hanya di saat suka, tapi juga di saat duka", hingga "Sahabat itu ibarat kencing di celana, orang lain hanya mampu melihat basahnya, tapi kehangatannya hanya kita yang merasakannya", dan masih banyak yang lainnya. Namun, menurutku setiap definisi yang dibuat tentang sahabat, semuanya menuntut (maaf, jika kata tersebut kurang pas, karena aku tak menemukan kata yang lebih pas) pada kesempurnaan, setidaknya memenuhi keinginan orang yang menginginkan seperti apa sahabat. Padahal, menurutku, sesempurna apapun definisi sahabat, sahabat tidak akan pernah sesempurna definisinya.

Bagiku, aku tak ingin mendefinisikan apa dan siapa itu sahabat. Biarkanlah sahabat mendefinisikan dirinya sendiri. Bukan karena aku tak bisa membuat definisi apa dan siapa itu sahabat, tapi yang aku mengerti, sahabat akan lebih indah tanpa terdefinisi, dia akan berwarna-warni melebihi warna-warna pelangi, sehingga dia akan muncul bukan hanya selepas gerimis.

#Day 14: Ya = Tidak

“Ya”.
“Ya”.
“Ya”.
“Ya”.
Itulah yang aku dapatkan. Pada awalnya lebih dari itu bahkan jumlahnya tak pernah aku kira, tapi akhirnya itu hanyalah sebuah jawaban. Ya, hanya sebuah jawaban, bukan sebuah harapan, bukan sebuah keinginan, sebuah kesepemahaman, apalagi sebuah kebutuhan. Sama seperti yang sekarang.
Jujur, aku tidak terbiasa dengan hal seperti ini. Bagiku “Ya” artinya setuju, sepakat, sependapat, seiya-sekata, sepemahaman, dan…. Yang pasti bukan sebuah penolakan. Tapi itu dulu, bukan sekarang, bukan di sini, bukan di tempat aku menunggu bola salju menghampiri.
Aku anggap aku cukup lama, tapi itu semua tak membuatku mampu memahami konsep-konsep yang aku temukan. Walaupun begitu, aku setidaknya tahu, setidaknya mengalami dan menjadikannya pelajaran bahwa kata “ya” yang nyaring yang aku anggap sebagai kata ya, lama kelamaan akan terdengar dan menjadi kata “tidak” pada akhir gema yang menggaung, tanpa terdengar jelas masa transisi perubahannya.
Satu pelajaran yang aku ambil bahwa jika kata “Ya” yang terdengar, janganlah menunggu hingga kata ia berubah menjadi kata “tidak”, karena tanpa ditunggupun ia akan menjadi kata “tidak” dengan sendirinya. Menunggu hanya akan membuat kekecewaan yang lebih dalam.

#Day 13: Aku Ingin Benar-benar Mencintaimu

Tuhan, jika langit-Mu Kau tutup
Dan matahari-Mu meredup
Ku harap aku masih sanggup
Mengingat-Mu, walau udara-Mu tak mampu lagi ku hirup
Tuhan, aku tahu aku tak pernah tahu
Aku mengerti aku tak pernah pahami
Setiap rencana, janji yang Kau beri
Setiap cobaan yang aku alami
Tuhan, aku hanya bisa mengeluh
Menuduh setiap pahit yang aku rengkuh
Adil-Mu padaku tak penuh
Tapi, Tuhan….
Aku masih ingin mencintai-Mu
Merindukan-Mu sepenuh hatiku
Melebihi segenap jiwaku, dengan ulur Tangan-Mu.



Tuesday, May 15, 2012

#Day 12: Khilaf

Biar remuk, remuklah sudah
Karena salah bisa tak terbenah
Entah,,, kadang susah
Walau jiwa sudah terasah
Bukan buta, bukan tak ada rasa
Tapi hanya karena khilaf bicara
Hingga setia berubah menjadi noda
Dan nista cemari cinta
Lalu,,
Yang ada tinggalah sendu
Pilu kelabu, kabut membisu
Dan langit tak lagi biru

Saturday, May 12, 2012

#Day 11: Tanya Jawab = Jawab Tanya

Aku “tak” memintamu untuk membaca tulisan ini.
Kawan, (apakah kau kawanku, setidaknya aku memanggilmu begitu) tulisan ini bukan untuk berbicara hanya dengan diriku sendiri, tapi juga denganmu. Mungkin apa yang aku tulis (bicarakan) tak mampu kau pahami karena mungkin aku tak bisa memahami bagaimana menuliskan sebuah tulisan yang bisa kau pahami, atau sebaliknya. Tapi itu bukan yang aku maksud. Yang aku maksud adalah aku ingin berbagi sebuah “pertanyaan”.
Kawan, dulu aku pernah membaca sebuah tulisan dalam sebuah buku. Tulisan tersebut adalah “meaning”, pada awalnya aku hanya mendengarnya dan tak pernah menghiraukannya, namun setelah membacanya aku mulai mencari tahu apa maksud dari kata tersebut, dan kemudian aku mengetahuinya. Tahukah kau kawan mengapa aku ingin mengetahui arti dari kata tersebut setelah aku membacanya? Padahal pada saat aku mendengarnya tak ada keinginan untuk mencari tahu.
Hmmm…. sepertinya sukar rasanya aku menjelaskannya kawan, tapi pernahkah kau bertanya pada temanmu dengan pertanyaan “apa artinya ‘what does it mean’?” atau “’what does it mean’ apa artinya?” kemudian temanmu menjawab, “’what does it mean itu apa artinya”. Ya, mungkin seperti itulah kiranya maksudku.
Maksudku begini, pertanyaan kadang muncul langsung dengan jawabannya, bahkan kadang pertanyaan itu sendiri merupakan jawaban dan jawaban merupakan/akan mengundang sebuah pertanyaan. Lalu?
Lalu mengapa akhirnya aku mengetahui arti kata “meaning”? karena setalah aku mendapati tulisan tersebut aku bertanya pada diriku tentang arti “meaning” sedangkan pada saat aku mendengarnya aku tak mempertanyakannya.
Baik, mungkin dalam uraian yang lebih simple seperti ini, Kita selamanya tak akan memiliki sebuah jawaban jika kita tak memiliki sebuah pertanyaan dan tak akan memahami apa maksud dari sebuah jawaban jika kita tak pernah menanyakannya.
Pertanyaanku sekarang, kenapa aku menulis tulisan ini dan kenapa kau mau membacanya?


#Tulisan ini aku temukan dalam laptopku di folder yang bernama "Ga Jelas"