Pages

Friday, May 25, 2012

#Day 24: Burn It Down

The cycle repeated,
As explosions broke in the sky,
All that I needed,
Was the one thing I couldn't find,
And you were there at the turn,
Waiting to let me know,

Chorus:
We're building it up,
To break it back down,
We're building it up,
To burn it down,
We can't wait,
To burn it to the ground.

The colors conflicted,
As the flames climbed into the clouds.
I wanted to fix this,
But couldn't stop from tearing it down.

And you were there at the turn,
Caught in the burning glow.
And I was there at the turn,
Waiting to let you go.

You told me yes,
You held me high,
And I believed,
When you told that lie.

I played solider,
You played king,
Struck me down,
When I kissed that ring.

You lost that right,
To hold that crown,
I built you up,
But you let me down.

So when you fall,
I'll take my turn,
And fan the flames,
As your blazes burn.

And you were there at the turn,
Waiting to let me know.

We're building it up,
To break it back down,
We're building it up,
To burn it down,

[We can't wait,
To burn it to the ground.
So when you fall,
I'll take my turn,
And fan the flames,
As your blazes burn. ] x2

We can't wait,
To burn it to the ground...


Lirik di atas adalah lirik single terbaru Linkin Park yang dirilis pada 15 April 2012 dari album Living Things. Untuk album Living Things sendiri akan dirilis pada 26 Juni 2012. Just check this song out here !. I love it so much and I think you do too. 

Dan berikut daftar lagu dari album Living Things:

1. ‘Lost in the Echo’
2. ‘In My Remains’
3. ‘Burn It Down’
4. ‘Lies Greed Misery’
5. ‘I’ll Be Gone’
6. ‘Castle of Glass’
7. ‘Victimized’
8. ‘Roads Untraveled’
9. ‘Skin to Bone’
10. ‘Until It Breaks’
11. ‘Tinfoil’
12. ‘Powerless’

#Day 23: Dia Anakku

Tangismu terdengar samar-samar
Membelai mimpi indah sang fajar
Kau meminta berjuta cerita suka
Bergelora di setiap rongga dada
Ya, dada, dadaku
Walau berat beban di matamu
Kau tetap bertahan dengan bibir basahmu
“dia anakku” sebutmu
Aku mendengkur tidur di ujung sana
Buta kata-kata cinta
Yang kau untai ke kolong langit ke tujuh
Dan aku acuh
Tapi kau tak peduli aku peduli
Kau tak meminta aku mendengar
Setiap bait doa yang kau tebar
Kau hanya ingin memberi
walau hanya dengan sujud  di atas tikar yang tak lebar
“Tuhan, dia anakku” sebutmu

Tuesday, May 22, 2012

#Day 22: Sang Cermin

Di depan cermin ia berdiri, menatap setiap guratan usia yang semakin lama membuatnya semakin tua. 
“Ah, aku masih muda” katanya sambil sedikit tersenyum “Benar kan?” Tanyanya kemudian pada cermin.
Cermin hanya diam tak berkata, bukan takut tuk menjawab tapi diamnya adalah jawaban. Jawaban antara tidak dan ya. Cermin menjawab dengan jawaban jujur, hanya saja jawaban-jawaban itu harus ia susun kembali menjadi satu jawaban yang utuh sehingga ia bisa mengetahui apa sebenarnya jawaban sang cermin.
Namun, ia masih belum mampu menyusun jawaban-jawaban tersebut, atau ia sudah menyusunnya namun ia belum yakin dengan jawaban sang cermin.
Kemudian ia menyisir rambutnya yang panjang agar terlihat rapi. Mengoleskan cream anti-aging di setiap sudut wajahnya dan tak lupa beberapa goresan lipstik yang ia beli di sebuah kota yang terkenal akan kosmetiknya beberapa bulan yang lalu. Ia berdehem dan berdiri lagi di depan cermin.
“Sekarang bagaimana?” tanyanya serius
Lagi-lagi, cermin warisan dari kakek kakeknya tersebut tak bersuara. Diam seperti adanya. Dan lagi ia harus menyusun kepingan-kepingan diam sang cermin menjadi satu jawaban yang bersuara, ya atau tidak.
Kepingan-kepingan itu terlalu banyak baginya, ia tak benar-benar bisa menyusunnya. Ia kemudian berjalan keluar kamarnya menuju balkon yang menghadap tempat di mana mentari kembali ke peraduannya. Ia menghela nafas panjang sembari membelai daun-daun bunga jasmin yang menjalar lebat di pagar balkon. Ada butiran-butiran sisa air hujan yang menetes dari daun-daun yang ia sentuh. Kemudian ia tersentak dan kembali ke kamarnya.
Sambil membawa gunting ia pergi ke kamar mandi. Ia membersihkan semua hasil make-up yang ia oleskan dan memendekkan rambutnya. Setelah itu ia pun kembali berdiri di depan cermin di kamarnya.
“Bagaimana kalau sekarang?” tanyanya lagi
Dengan jawaban yang sama, cermin itu diam dalam jawabnya, menjawab dalam diamnya.
Ia pun mengambil cermin yang setinggi setengah dari tingginya tersebut dari tempatnya. Menatapnya dengan tatapan tajam dan kemudian menggoncang-goncangkannya.
“Berikan jawaban yang aku mengerti, berikan jawaban yang bisa aku pahami, jangan hanya diam!” teriaknya pada sang cermin. Dan cermin pun tetap diam.
Dan ia pun melemparkan cermin tersebut ke sudut kamarnya.
Suara pecah cermin akhirnya memberikan jawaban. Tapi tetap saja, jawaban itu tak jelas karena setiap pecahan memberikan jawaban masing-masing yang membuatnya semakin pusing dan harus berkeliling mengumpulkan jawaban-jawaban yang berserakan bersama dengan berserakannya pecahan-pecahan cermin tersebut.
Ia pun duduk, tertunduk. Ia lelah. Namun akhirnya ia berdiri lagi menghampiri pecahan-pecahan cermin yang berserakan. Mata manisnya memandangi setiap pecahan kaca. Ia pun mengambil satu pecahan cermin seukuran tangannya yang tepat berada di bawahnya. Ia memandanginya, bercermin dengannya.
“Aku sudah tua,” bisik sang pecahan cermin.




#Day 21: Angin Malam

Angin malam
Kau masih terasa walau ku terpejam
Bersulam kelam tanpa bintang
Tanpa dengung kumbang-kumbang
Angin malam
Dinginmu tak membuatku kelu
Karena kau bukan sembilu
Bukan pula perasaan semu
yang menipu

Duhai angin malam
Cahaya pelukmu bak temaram
Sejuk walau tak terang
Indah walau tak dapat ku pandang

Duhai angin malam
Jika pagi menjelang dan siang pun datang
Ku harap kau tak menghilang
Dan kembali memeluk diriku yang gersang

Monday, May 21, 2012

#Day 20: Memori Tentang Seorang Sahabat

Ya, aku masih ingat betul caramu berbicara, dengan logat Jawa yang khas walaupun sebenarnya kau bukan orang Jawa. Sesekali kau berbicara dengan bahasa Jawa dan sesekali dengan bahasa Madura, dan aku mengerti keduanya.
“Hujan-hujanan yuk!” ajakmu padaku pada suatu sore.
“Ayok!” jawabku
Kita pun berlarian di atas pematang sawah di belakang kosan. Ya, hanya kita berdua, tak ada yang lain, karena kita berdua yang merasa begitu dekat di antara penghuni kosan yang lain, hampir tak ada batas. Satu kebiasaan yang tak pernah aku temukan di masa sesudah dan sebelum itu adalah ketika kita makan di warung, siapa yang selesai duluan makan dia yang bayar, tanpa ada kesepakatan tanpa ada rasa keberatan, hal itu mengalir begitu saja.
“Jieb, habis lulus kursus kamu mau ke mana?” tanyamu, setelah puas berputar-putar dan hujan sudah tak deras lagi.
“Aku pulang dulu, Ta” jawabku “mau nyaiapin persyaratan ngambil ijazah, ijazahku belum diambil. Habis itu aku pingin kuliah, mungkin ke Jakarta. Emang kamu mau ke mana?” tanyaku balik.
“Aku kayaknya tetep di sini, mau kursus lagi. Tapi aku mau balik dulu” jawabmu
Walau kita berdua sebenarnya beda kursusan, tapi Tuhan menakdirkan kita bertemu di satu kosan. Dan pertemuan denganmu menjadi satu kenangan yang tak kan terlupakan.
Enam bulan tak terasa, kita pun harus berpisah. Tapi enam bulan bukan waktu yang sebentar bagiku untuk merajut kisah persahabatan denganmu. Dan pada waktu itu kau pulang lebih dulu. hanya aku satu-satunya yang mengantarkanmu menunggu bis jurusan Surabaya.
“Aku punya hutang gak?” tanyaku “kalau punya hutang tapi aku lupa, ikhlasin yak!” kataku sambil sedikit tertawa.
“Gak ada kayaknya” jawabmu
Aku ingat, di antara kau dan aku yang paling sering ngutang itu aku, haha… ya, aku ingat itu, karena sampai sekarang pun aku tak pernah ingat kau pernah pinjam uang padaku.
Kawan, aku ingat semua. Ingatanku tentang persahabat kita bahkan tak mampu aku susun dalam rangkaian kata-kata yang sempurna, terlalu indah untuk diungkapkan dengan kata-kata, karena aku hingga kini belum pernah mendapatkan seindah persahabatan yang pernah kita punya. Indahnya persahabatan itu pun bahkan berlanjut hingga kita tak lagi bersama. Seringkali kau menelponku, menanyakan kabarku, bahkan sekedar bercerita kembali tentang masa-masa bodoh kita waktu di kosan.
“Kamu lagi di mana?” Tanyaku saat kau menelponku
“Lagi di atas jembatan” jawabmu
“Di atas jembatan malem-malem gini? Ngapain?” tanyaku lagi “awas kesurupan lho!
“hehe… jalan-jalan Jieb, sumpek di rumah terus” jawabmu “tau gak Jieb, sebenarnya aku ada jinnya?”
“terus kalau udah tau ada jinnya ngapain main di jembatan malem-malem gini?” tanyaku heran.
Dan kaupun bercerita bahwa kau sudah beberapa minggu sering kesurupan. Aku sedikit bergidik mendengarnya. Tapi suaramu tak menunjukkan adanya perasaan takut, seolah-olah kesurupan merupakan hal yang biasa buatmu.
“Udah pulang aja cepetan!” saranku padamu setelah bercerita panjang lebar.
Kawan, jika kau tahu ada satu penyesalan yang amat dalam yang sampai saat ini aku benar-benar merasa bersalah padamu.
“Jieb, punya nyanyian bahasa Inggris gak buat anak-anak, nih adekku minta lagu bahasa Inggris” suatu hari saat kau menelponku lagi.
“Ada Ta, entar aku cari dulu ya! tapi jam 3-an ya kamu telpon lagi, aku lagi dikampus” jawabku
Dan saat jam tiga kau pun menelponku, dan samar-samar terdengar suara adekmu di sana.
“Gimana Jieb, ada gak?” tanyamu
“Ada Ta” jawabku “tapi gimana nih caranya? Masak aku nyanyi gitu ngajarinnya? Kayaknya susah deh kalau via telpon” tambahku panjang lebar
“Susah ya Jieb?” tanyamu saat itu tanpa sedikitpun memaksaku untuk mencari cara agar adikmu bisa aku ajarin lagu-lagu bahasa Inggris yang sebenarnya telah aku janjikan.
Bodoh, kawan… aku benar-benar bodoh, aku egois kawan. Apa susahnya sih ngajarin lagu bahasa Inggris via telepon? Tak susah sebenarnya kalau aku mau. Dan aku menyesal kawan. Seandainya kau menelponku lagi dan memintaku untuk mengajarkan adikmu lagu-lagu bahasa Inggris, akan aku lakukan kawan, hingga benar-benar habis kumpulan lagu-lagu bahasa Inggris yang aku punya.  Maafkan aku, maafkan aku kawan!
Tapi maafku, penyesalanku percuma…
Berhari-hari, berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan kau tak lagi menghubungiku. Tiba-tiba suatu hari aku merasa ada yang hilang, merasa ada yang janggal bersamaan dengan suara dengungan di telinga kiriku. Aku mencoba tak mengubrisnya. Tapi tiba-tiba aku teringat dirimu! Dan aku pun tiba-tiba ingin menghubungimu.
“Halo, assalamu ‘alaikum” sapaku saat nomor hapemu terangkat.
“Alaikum salam” jawab seseorang di sana. Jawaban itu membuatku merasa aneh, itu bukan suaramu, itu suara seorang perempuan yang tak pernah aku dengar sebelumnya.
“Maaf ini siapa ya?” tanyanya
“Ini Mujib, Bu!” jawabku “Temennya Fata, Fatahnya ada bu?” tanyaku
“Fata, mas?” tanyanya padaku yang membuat aku semakin heran “Wah, Fatahnya udah gak ada mas, udah satu bulanan yang lalu.”
Tiba-tiba tenggorokanku terasa kering seketika, dan aku pun sepertinya tak bisa merasakan detakan jantungku.
“Gak ada gimana ya, Bu?” aku masih bertanya
Ibu itu pun memberikan beberapa penjelasan padaku tentang dirimu kawan. Aku berusaha mendengarkan semuanya, dan akhirnya aku paham bahwa kau benar-benar tak ada. Ya, benar-benar tak ada, untuk selamanya. Dan kau tahu kawan? Aku pun menangis, menangisi semua cerita indah tentang kita kawan, cerita indah yang hanya menjadi kenangan yang tak bisa lagi kita bicarakan dan kita ingat bersama dan kemudian dengannya kita tertawa. Dan kau tahu kawan? Akupun menyesali dan menangisi keegoisanku yang di saat kau sakit pun aku tak tahu. Tapi apakah kau di sana tahu bahwa aku menyesal? Bahwa aku merasa begitu kehilangan? Sangat kehilangan. Karena sampai sekarang pun aku belum menemukan seorang sahabat sepertimu. 
Kawan, aku akan selalu ingat kawan, semuanya, hingga senyuman dan pelukan terakhirmu saat ku mengantarkanmu pulang tiga tahun yang lalu.


Sunday, May 20, 2012

#Day 19: Pepatah Bermasalah

Kenal ama yang namanya pepatah kan? kenal donk, masak gak kenal. Itu lho, pepatah pohon kelapa, pepatah pohon kurma. Itu pelepah.  Gikssss....

Pepatah itu istilah yang digunakan untuk menggambarkan sebuah kondisi, tindakan, nasehat, atau sifat seseorang dengan kalimat perumpamaan. Pepatah juga dikenal dalam kata lainnya peribahasa.

Ngomong-ngomong soal pepatah, seringkali kita mengambil atau menelan pepatah secara mentah-mentah. Padahal kalau kita perhatikan baik-baik, ternyata ada beberapa pepatah yang "aneh". Maksudnya aneh begini, ada perumpamaan-perumpamaan yang menurutku dipaksakan, atau justru menganjurkan pada kondisi yang sebenarnya terbalik, bingung ya? Ok, kalau bingung mendingan langsung aja kita melihat beberapa pepatah yang menurutku "aneh".

1. Habis manis sepah dibuang. Pepatah ini sering digunakan untuk orang yang hanya diaggap ketika bisa dimanfaatkan saja, ketika tidak dimanfaatkan lagi biasanya orang tersebut tidak lagi dianggap. Sekilas memang ada kesamaan kondisi antara orang yang sudah tidak dianggap dengan sepah yang dibuang. Tapi, kalau diperhatikan labih jauh lagi akan terkesan penggunaan sepah untuk menggambarkan orang yang sudah tidak dianggap, menurutku, terlalu dipaksakan. Kenapa terlalu dipaksakan? gini lho, emang sepah kalau sudah gak ada manisnya mau diapain lagi? mau dikunyah? mau dibikin kue? ya, sepah kalau udah ga manis lagi harus dibuang. Ini beda jauh ama orang yang gak dianggap, permasalahannya bukan di orang yang gak dianggap tapi di orang yang gak mau nganggap.

2. Hiduplah seperti lilin, dia rela hancur untuk menerangi sekelilingnya. Ini nih, udah disuruh jadi lilin yang penerangannya gak terang amat, habis itu hancur lagi. Kalau udah hancur gimana mau nerangin lagi coba? mendingan jadi matahari, udah cahayanya gak ada tandingannya, manfaatnya dinikmatin seluruh isi alam, bisa jalan-jalan lagi muter-muter dunia. Beda ama lilin, kalo udah ditaroh, dia gak bisa ke mana-mana. Mending kalau ditaroh di tempat yang bagus, coba kalau ditaroh di WC pas mati lampu,,, "Hmmm seronoknya!" kata Upin & Ipin. Kalau aku sih lebih setuju ama pepatah yang bilang "Berkorbanlah! tapi jangan jadi korban"

3. Hiduplah seperti air, walaupun ada bebatuan di depannya ia tetap mengalir apa adanya. Kalau menurutku, hidup itu jangan kayak air, walaupun dia bisa terus mengalir dia itu hidup gak punya pilihan. Hidup dia hanya mengalir ke hilir gak bisa ke hulu. Itupun dia bisa ngalir kalau kuantitasnya banyak, coba dikit, boro-boro ngalir, dia udah diserep duluan ama bumi, kalo gak menguap ilang entah ke mana. Yah, bolehlah hidup kita mengalir, tapi ngalirnya jangan kayak air, mengalir tapi kita bisa mengendalikan aliran hidup, kalau mau ke hulu, ya ke hulu, kalau mau ke hilir, ya ke hilir. Kalau misalnya waktu ngalir terus ada batu di depan kita ngapain harus ditabrak kalau bisa ngehindar.

4. Kacang lupa kulitnya. Ini nih, pepatah yang menurutku paling aneh, emang sejak kapan ya kacang punya ingatan kok bisa lupa? ini kan perumpamaan, namanya personifikasi, kan sama aja kayak "daun itu melambai-lambai". Wah, yang ini beda, beda jauh. Kalau yang "daun itu melambai-lambai" personifikasinya jelas, maksudnya daun itu emang bergerak-gerak seolah-olah melambai-lambai. Kalau yang kacang, "kelupaannya" dilihat dari mananya?


Saturday, May 19, 2012

#Day 18: Three Conditional Sentences

If the world had no sun
We would have no some fun
If we live without friend
We obviously can't stand
If there were no word
There'd be no world  

Friday, May 18, 2012

#Day 17: Myths and Facts on 17

Karena postingan ini merupakan postingan ke-17 dari #30HariBlogging, maka saya akan memposting tentang hal-hal yang berkaitan dengan angka 17, dan berikut ini merupakan fakta-fakta dan mitos-mitos menarik di balik angka dan tanggal 17:
1.   Al-Quran diturunkan pada tanggal 17 Ramadan
2.   Peringatan Isro' Mi'roj jatuh pada tanggal 17 Rajab
3.   Kisah tentang Isro' Mi'roj diceritakan dalam Al-Quran di surat ke-17 (Al-Isro')
4.   Jumlah keseluruhan rakaat shalat sehari semalam adalah 17 rakaat
5.   Tanggal 17 Agustus merupakan hari kemerdekaan Indonesia. Republik Gabon juga hari kemerdekaannya pada tanggal dan bulan yang sama dengan Indonesia, hanya tahunnya yang berbeda, yaitu 1960. Selain itu ada beberapa negara yang juga hari kemerdekaanya pada tanggal 17, yaitu Irlandia (Maret), Syria (April), Norwegia (Mei), Islandia (Juni), dan Korea Selatan (Juli). Uniknya jumlah negara yang hari kemerdekaannya sama pada tanggal 17 berjumlah 7.
6.   Peringatan hari kemerdekaan Indonesia yang pertama kali pada tanggal 17 Agustus 1945 bertepatan dengan  tanggal 17 Ramadan. Pada tahun 2011, tanggal 17 Agustus juga bertepatan pada tanggal 17 Ramadan.

7.   Tanggal 17 Februari 1950 merupakan hari bersejarah bagi rakyat Bekasi (pasti orang Bekasi sekarang banyak yang ga tahu), karena pada tanggal tersebut rakyat Bekasi menuntut pemerintah untuk mengubah Kabupaten Jatinegara menjadi Kabupaten Bekasi.
8.   Angka 17 dianggap angka yang unik dan banyak orang yang menganggapnya keramat karena merupakan gabungan dari angka 1 yang berarti Maha Esa, Maha Agung, dan Maha Satu, dan angka 7. Angka 7 sendiri memiliki keunikan tersendiri karena banyak elemen-elemen di dunia ini yang tersusun dan terbentuk dalam 7 jumlah, seperti 7 keajaiban dunia, tujuh lapisan bumi dan langit, tujuh benua, 7 samudra, 7 hari dalam 1 minggu.  
9.   Pakar matematika Prancis Jean-le-Rond d’Alembert lahir tanggal 17 Mei 1717
10. Phobia terhadap angka 17 disebut sebagai “heptadecaphobia” atau “heptakaidekaphobia”
11.  Dalam kebudayaan Italia , 17 dianggap sebagai angka sial. Gedung-gedung di Italia tidak punya lantai 17, hotel tidak punya kamar nomor 17 , dan pesawat Aitalia (juga Bristish airway concordes) tidak punya kursi nomor 17
12.  Judul  asli lagu “I Saw Her Standing There” karya The Beatles adalah Seventeen
13.  Ketika sesorang tersenyum maka ia menggunakan 17 otot wajah yang berbeda
14.  Usia 17, kemudian sering dikenal dengan istilah Sweet Seventeen,  merupakan usia yang banyak ditunggu-tunggu para remaja di zaman ini, karena pada usia tersebut, mereka merasa akan lebih bebas dalam melakukan berbagai hal karena sudah dianggap dewasa.
15.  Usia 17 juga merupakan patokan yang digunakan oleh banyak negara untuk mewajibkan mereka memiliki Kartu Identitas Penduduk.
16.  Usia 17 adalah usia minimal bagi seseorang untuk diperbolehkan memiliki Surat Izin Mengemudi (SIM)
17.  Perdana Menteri pertama Bangladesh, lahir pada 17 Mei 1920, yang terkenal bijaksana memiliki seorang titisan yang lahir di Indonesia pada 17 April (bertepatan dengan tanggal 17 Sya'ban) pada tahun 1987 dengan nama yang sama, Mujibur Rohman (haha... jangan terlalu serius bacanya)


*) Dari Berbagai Sumber

#Day 9: Manusia Sahabat Kesalahan

Percaya atau tidak semua pasti percaya (lho, mulai-mulainya kok gini) kalo manusia itu memang tempatnya salah dan lupa, baik disengaja atau tidak. Cuma Allah yang gak pernah salah ma lupa. Tahu dari mana? ya kalo soal ini mah nyari jawabannya gak perlu harus buka-buka berbagai macam referensi, tinggal tanya ja ma diri sendiri berapa kesalahan yang dah kita lakuin sehari ini ama Tuhan atau ama manusia, pasti harus mikir-mikir dulu berpuluh-puluh kali baru ketemu, itupun kalo ketemu, atau pura-pura gak ketemu. Wah, kalo pura-pura g ketemu berarti mau bikin kesalahan baru nih.

Yang pasti namanya kesalahan n lupa g bakal jauh-jauh dari kita, sekuat apapun usaha kita tetap aja kita gak bakal terlepas dari kesalahan. Ya, setidak-tidaknya kalo dah berusaha banget tuk gak berbuat salah jatuh-jatuhnya jadi kesalahan yang gak disengaja. Misalnya, saat kita lagi ngobrol terus becanda-becanda ma temen, tanpa disengaja waktu kita ngomongin sesuatu yang kita anggap becandaan ada temen kita yang merasa tersinggung. Terus itu kesalahan ga? kan itu g disengaja? Ya, kalo menurutku sih kesalahan ya tetep kesalahan yang seharusnya kita minta maaf dengan kesalahan itu. Bukan berarti kesalahan akan berubah menjadi bukan kesalahan lantaran kita g sengaja. Tetep aja kesalahan cuma kadar/derajat/level kesalahannya beda ama yang disengaja.

Berarti manusia bakal salah mulu donk? Ya, kalo menurutku begitu. Ya percuma donk kita berusaha wat gak salah kalo gitu? ya udah salah ya salah ga usah dipikirin buat ngebenerinnya. ya, bukan gitu juga kali. Kalo menurutku tetap saja yang paling berpengaruh dalam penilaian salah enggaknya itu niat dan sekuat apa kita tuk gak berbuat kesalahan. Karena lawannya salah ya bener, itu dah jelas, apa coba lawannya salah kalo bukan bener? itu udah jelas. Cuma salah dan benernya manusia itu kadang sering gak jelas. Ya, kayak yang aku contohin di atas, ada orang marah gara-gara becandaan kita, padahal niat kita becanda lho. Terus kita masih mo ngerasa bener gitu karena kita sebenernya kita ga  punya niatan wat bikin dia tersinggung? Ya kalo menurutku lebih baik minta maaf ma dia, kan bisa jadi kadar becandaan kita ma dia beda, kalo kadarnya dah salah ya hasilnya juga ga bakal bener, toh kita juga yang ngungkapin becandaannya, toh juga gak ada salahnya minta maaf.

Ya, intinya yang pertama "Lebih baik merasa salah tapi bener daripada mengaku bener tapi salah". Terus inti yang kedua mau gak mau akupun juga harus ngaku salah (wah ga ikhlas nih kok pake kata "mau gak mau"? gak, ihklas banget). Emang apa salahnya? Salahnya, aku salah ngitung jumlah postinganku, ternyata aku belum ngepost wat Day 9. Sorry ya teman-teman aku tak sengaja, jadinya Day 9 nya aku postingin sekarang.  Aku baru tahu setelah aku itung2 lagi, kok kurang satu. Eh, ternyata Day 9 gak ada. Sorry banget,,,,!!!

Oh, maksud dari tadi muter-muter cuma mo bilang ini tah? hahaha.... Ya, kalo mo dianggap gitu ku pikir gak salah, yang penting aku dah ngaku kalo aku lupa and salah ngitung, jadi aku lunasin sekalian, daripada aku punya hutang? ya gak?