Pages

Monday, January 7, 2013

#Day 4 Hutang


Jika aku ditanya hal apa yang paling tidak enak, maka jawabanku adalah “Punya Hutang”. Ya, punya hutang. Kenapa? Soalnya hutang itu berkaitan ama orang lain dan hutang tersebut akan terhapus hanya dengan cara melunasinya. Selama hutang belum dibayar, maka orang yang punya hutang akan selalu dikejar oleh tunggakan-tunggakan yang harus dilunasinya (kok balik lagi ya sepertinya).
Yang pasti, siapapun di dunia ini pasti pernah tahu rasanya berhutang, baik hutang budi, hutang janji, hutang uang, dan hutang-hutang yang lainnya. Jika dibagi berdasarkan kategori, menurutku hutang dibagi menjadi dua, yaitu hutang yang benar-benar terikat dan hutang yang nggak begitu terikat. Lho kok cuma dua? Karena hakikatnya, yang namanya hutang nggak ada yang nggak terikat, semuanya terikat. Hanya saja, tingkat kuatnya ikatan berbeda-beda. Makanya, cuma dibagi dua.
Hutang yang benar-benar terikat adalah hutang yang biasanya masa pelunasannya ditentukan atau berdasarkan kesepakatan penghutang dan pemberi hutang (bener gak sih penghutang). Sedangkan hutang yang nggak begitu terikat adalah hutang yang biasanya tidak ditentukan kapan pelunasannya. Hutang seperti ini tampak lebih ringan daripada tipe hutang sebelumnya. Tetapi, kadangkala dampaknya lebih tidak mengenakkan daripada tipe hutang sebelumnya. Kok bisa? Begini, ketika masa pelunasan hutang ditentukan maka penghutang akan mengetahui kapan dia harus melunasi dan biasanya akan lebih termotivasi untuk berusaha melunasi hutangnya. Hal ini sangat berbeda dengan tipe hutang yang kedua. Karena waktu pelunasannya tidak ditentukan, maka tuntutan pelunasan hutang bisa datang tiba-tiba. Hal tersebut akan sangat menjadi masalah bagi penghutang jika dia belum siap melunasi hutangnya sedangkan pemberi hutang sudah memintanya.
Namun demikian, ketentuan waktu pelunasan hutang juga seringkali tidak bisa dipenuhi bahkan cenderung diabaikan oleh penghutang.  Sehingga tak jarang pemberi hutang meminta tambahan labih dari jumlah awal hutang  jika pada waktu pelunasannya penghutang belum meluniasinya.  
Hal ini juga berlaku bagi aktifitas #30hariblogging2. Walaupun tidak ada perjanjian yang benar-benar mengikat, secara prinsip, kesepakatan bahwa geng #30hariblogging2 harus memposting 1 postingan setiap harinya merupakan sebuah kesepakatan yang harus ditaati dan dilunasi. Hanya saja, kriteria-kriteria yang ada pada dua tipe hutang yang sudah disebutkan di atas tidak ‘benar-benar’ berlaku. Karena, walaupun kesepakatannya masing-masing geng harus memposting satu postingan pada tiap harinya, pada prakteknya, menurut pengalaman yang sudah terjadi, tidak ada satupun geng yang bener-bener bisa secara konsisten memposting satu postingan setiap harinya. Hal tersebutlah yang kemudian membuat para gengs menghutang postingan. Bahkan pada hari ketigapuluh pun ada yang memiliki kendala untuk melunasi postingan-postingan yang nunggak. Namun, hutang yang tidak terlunasi tidak menyebabkan para geng harus memposting jumlah yang labih dari 30 lantaran pernah punya hutang.
Namun demikian, kewajiban memposting yang belum terselesaikan akan menjadi hutang yang akan terus menerus dituntut untuk dilunasi. Oleh siaapa? begini, walaupun tak akan ada seorang pun yang akan menuntut dan menagih hutang postingan (selain karena tak ada yang jadi tukang tagih, juga karena masing-masing geng pernah/masih punya hutang) tetap saja hutang tersebut akan menjadi sebuah ‘kewajiban’ yang harus dilunasi. Namanya juga hutang. Kalau sudah jadi hutang, apapun jadi gak enak.

Thursday, January 3, 2013

#Day 3 Biarkan Aku Diam


Silahkan kau berlari
Tapi biarkan aku berdiri di atas pijakan kakiku sendiri
Mengamati.
Silahkan kau berteriak!
Tapi diriku jangan kau ajak
Karena matamu dan mataku berbeda jarak
“Kau egois!”
Ya, aku egois
Tapi lihat dirimu, kau buat orang lain 'menangis', meringis,
Itukah yang kau sebut 'eksis'?
Siapa yang egois?
“Bisamu hanya diam saja!”
Lihat dirimu, kau berbuat apa saja tapi tak memiliki rasa,
“Hei, aku berjuang demi saudara, demi mereka yang ditindas semena-mena”
Hei, kau pikir karena demi saudara lantas kau boleh bertindak tanpa kacamata?
Aku tahu mungkin yang kau bawa logam mulia
Tapi tetap saja kau bungkus dengan tai manusia.
Ingat sodara! Aku tak kan pernah menyentuhnya
Tak kan pernah
Bahkan hingga kau ganti dengan bungkus tai sapi Australia.
Biarkan aku tetap terdiam,
‘Diam’ dalam definisiku.



#Day 2 Tempe Mendoan


Pukul delapan malam lebih aku beranjak pulang dari kampus. Sambil mendengarkan lagu-lagu terlama dan terbaru Linkin Park, pandanganku mencari-cari sesuatu di setiap sudut tempat dan bayangan yang terlihat. Ya, semenjak taburan cahaya kembang api menghiasi langit 1 Januari 2013 aku memiliki sebuah pekerjaan yang bisa dibilang berat tapi menyenangkan, setidaknya bagiku seperti itu. Apa itu? Mencari ide. Ya, mencari ide untuk sebuah tulisan yang harus aku posting di blogku. Meter demi meter langkahku menapaki setiap lorong gelap di belakang kampus, hingga akhirnya aku temui beberapa juniorku di depan perpustakaan jurusan sedang menyantap tempe mendoan.
“Mendoan, Kak!” kata salah satu dari mereka saat melihatku datang.
“Wah, mantap tuh!” jawabku. Dan tanpa ragu-ragu akupun bergabung dengan mereka.
Pikiranku masih tertuju pada pencarian ide. Ku pandangi mata juniorku satu persatu barangkali aku bisa menemukan beberapa ide bagus dari pantulan cahaya dari masing-masing mata mereka. Tapi percuma, ide itu tak terlihat juga.
“wow, pedes banget cuy sambelnya,” kata ku tiba-tiba.
“ini nih baru mendoan,” tambah salah satu juniorku.
“kulit mendoan tuh lembek ya, beda banget ama gorengan. Kalo gorengan kan agak keras gitu,” sambung yang lain.
“tapi kan sama-sama digoreng, bray” timpal yang lain.
“Ya juga sih,” jawab temannya dengan tersenyum.
Hatiku sedikit tersenyum mendengar perkataan-perkataan mereka. Sebuah komparasi ringan. Sebuah komparasi tentang perbedaan dan persamaan. Sebuah komparasi yang berangkat dari perbedaan yang ujung-ujungnya tetap memiliki kesamaan. Sebuah komparasi yang tidak hanya berasal dari satu sudut pandang.
Tiba-tiba aku teringat akan demonstrasi yang terjadi beberapa hari yang lalu. Hmmm… aku tidak ingin mengomentari apakah demonstrasi tersebut sebuah langkah yang bijak atau bukan karena hal tersebut menuntut aku untuk melihatnya dari berbagai sisi yang belum aku ketahui. Namun, aku ingin mengomentari prilaku beberapa demonstran yang menurut aku sangat tidak bijak. Aku pikir semua akan setuju bahwa mencorat-coret tembok kampus, merusak properti-properti kampus, dan membuat merasa terganggu (dan mungkin ketakutan) penduduk kampus yang lain bukanlah sebuah tindakan yang bijak dilihat dari sudut pandang manapun. Andai saja para demonstran yang melakukan pengrusakan tersebut memiliki cara sudut pandang seperti junior-juniorku ini,  tentunya mereka akan melakukan cara yang lebih bijak dan efektif dalam menyampaikan gagasan mereka.
“Balik dulu ya,!” kata ku tiba-tiba setelah merasa cukup mencicipi mendoan, “Thanks mendoannya!” tambahku.
Di tengah perjalanan pulang, aku bertanya-tanya mengapa bangsa ini begitu mudah bertindak anarkis, mengapa bangsa ini begitu mudah tersinggung dan marah. Sepertinya ungkapan bahwa kita bangsa timur yang ramah sudah tak lagi pantas kita sandang. Bayangkan saja, berita pembunuhan dan kematian menjadi sarapan pagi kita, berita pemerkosaan dan tawuran menjadi makanan siang kita, bahkan makan malam kitapun disuguhi dengan berita bentrokan antar suku. Entahlah, aku belum berani memberikan kesimpulan yang pasti.
“Baru pulang?” sapa ibu kosku sesampainya aku di kosan.
“Ya, Bu” jawabku.
Aku langsung pergi ke kamarku, ganti pakaian dan meletakkan tas. Aku ingat bulan ini aku belum bayar uang kos. Mumpung ibu kos belum tidur, aku pun mengambil uang yang sudah aku siapkan.
“Bu, mau bayar kosan,” ujarku saat aku melihatnya masih berada di luar.
“oh, makasih ya!” kata ibu kos.
“Sama-sama, Bu” jawabku.
“oh ya, kamu jadi pulang gak entar?” tanyanya
“Insya Allah jadi, Bu,” jawabku
“Ibu juga pengen pulang kampung,” tambahnya.
Ibu kospun mulai bercerita tentang alasan kenapa dia ingin pulang. Aku pun mendengarkannya. Penjelasan ibu kos begitu panjang lebar. Aku pun mulai berfikir sepertinya obrolan ini tidak akan berakhir dengan cepat dan akan ada banyak topik yang akan beliau ceritakan dan aku pun mengambil posisi yang enak. Ternyata benar, beliau mulai bercerita tentang sinetron yang beliau tonton semalam. Kemudian beliau bercerita tentang pengamatannya tentang siklus kematian mahasiswa dan dosen di fakultas beliau mengajar. Menurut beliau di fakultas tempat beliau mengajar setiap tahunnya selalu ada yang meninggal. Siklus yang terjadi selama ini menurut beliau selalu bergantian. Jika tahun 2011 yang meninggal dosen maka pada tahun 2012 yang meninggal mahasiswa, dan siklus tersebut juga terjadi pada tahun-tahun sebelumnya. Hingga akhirnya obrolan tersebut sampai juga pada topik tentang demonstrasi beberapa hari yang lalu. Aku berusaha menyimaknya walau sesekali pikiranku tertuju pada pencarian ide yang akan aku tulis diblogku.
“Udah malem, waktunya tidur,” ujar ibu kos tiba-tiba.
“Masak sih udah malam?” gumamku dalam hati.
“Makasih ya,” kata ibu kos sebelum pergi ke kamarnya.
“sama-sama, Bu,” jawabku
Aku pun beranjak dari tempat dudukku. Mataku mulai mengantuk dan aku sedikit kaget setelah ku lihat jam dinding menunjukkan angka 12 kurang.
“hmmm… ya sudahlah, sepertinya aku harus tidur dulu. Besok kan ada kelas pagi. Untuk urusan blog, ngutang dulu aja,” pikirku, “kayaknya tempe mendoan bisa tuh dijadiin cerita”.

Tuesday, January 1, 2013

#Day 1 #30hariblogging2


Sabtu, 29 Desember 2012
Pukul 9an Malam
Lihat-lihat Facebook, ngotak-ngatik Twitter, ketemu ama akun @yyunikaa. Tiba-tiba teringat #30hariblogging, kangen, nyoba ngetwit nanyain kabar and mention orang-orang #30hariblogging. @yyunikaa ngereply nanyain kabar dengan memention geng-geng lain yang kemudian “diprotes” oleh Miss @Morninghater_ kok cuma @jiebman doank yang ditanyain kabarnya. Haha…
Dari twit-twit tersebut muncullah ide untuk ngadain lagi #30hariblogging jilid 2. Tapi ternyata geng-geng lain lagi sedang tidak berkicau, jadi belum terjawab apakah semuanya setuju dan siap buat nge#30hariblogging lagi.
Pukul 11an Malam
Si @im_oz ngerespon, dia bilang abstain. Jujur, aku gak ngerti apa maksud dia dengan kata abstain. Muncul juga si @nalynahalaw, dia bilang sibuk. Maklum dia mau UAS, yang pastinya (kalo pasti) dia lagi ngerjain essay dengan jumlah kata yang biasanya beribu-ribu. Si ibu Er-Tenya #30hariblogging pun, kak @IFlowery akhirnya muncul juga. Sebagai ibu Er-Te penggagas #30hariblogging dia setuju2 aja. Nah, ini nih yang agak unik, respon si @scoutlie, dia nanya “ada apa nih?”, padahal udah diomongin panjang lebar. Kalo alasannya gak kemention dari awal karena ganti akun kayaknya kurang masuk akal, soalnya di timeline dia juga bakal muncul tuh twit-twit yang udah diritwit. Ato bisa jadi dia lagi sibuk mantengin essay UAS kali. Good luck deh buat @nalynahalaw and @scoutlie !
Minggu, 30 Desemmber 2012
Ada sodara yang datang ke kosan. Jadinya ‘gak sempet’ tuh nyari ide buat postingan pertama #30hariblogging2, soalnya seharian maen PES 2012 bareng dia, juga ama temen sekosan and seangkatan, Dede Imam Sugiana dari Majalengka. Malemnya juga masih ‘gak sempet’, soalnya dari jam tujuh udah ada EPL, apalagi jam sepuluhnya tim kesayangan, Liverpool tanding, makin gak kecari aja tuh ide.
Senin, 31 Desember 2012
Pukul 5 sore
Ngeliat blog kok kayaknya trouble, foto-foto yang diunggah gak bisa tampil, dan tulisannya banyak yang nyambung-nyambung.  Tiba2 muncul di kepalaku buat make template baru daripada ngebenerin lagi yang kemungkinan bakal makan waktu yang lebih lama. Akupun berselancar  nyari free tamplate, and gak beberapa lama kemudian dapet juga template baru yang cocok, warnanya sama seperti yang sebelumnya, cuma tata letaknya saja yang cukup berbeda jauh dan lebih sederhana. Ada hal baru yang aku temuin di template baru tersebut; kalo kursor diarahkan ke judul postingan, akan muncul efek cahaya putih. Cakep. Cobain aja kalo gak percaya! (-:
Setelah aku ngecek twitter sepertinya para gengs udah pada setuju buat nge#30hariblogging lagi. Apalagi geng satu-satunya yang belum muncul dua hari sebelumnya si @_uki juga ngerespon. Komplitlah sudah.  Walaupun replynya cuma “Hadir!” sepertinya itu cukup mengimplikasikan kalau dia setuju. Padahal sebenarnya bisa jadi dia cuma absen doank, ato bisa jadi nyuruh hadir, soalnya hadirnya pake tanda seru. H h.
Pukul 8.30an
Sambil nunggu adik-adik kelas yang mo bakar-bakar di malem tahun baru di kampus, aku nyari ide buat posting hari pertama di depan lab sastra Inggris tapi gak dapet-dapet. Mentok. Sampe mereka datang juga belum dapet tuh ide, bahkan sampe bakar-bakar and tahun baru udah tiba pun juga belum dapet ide. Mentok, istilah kerennya raitersblok.
Selasa, 1 januari 2013
Pukul 10an pagi
Bangun tidur. Habis mandi langsung aku ambil hape and buka FB. Ada notifikasi dari akun kak Dessy Aster enam jam yang lalu yang ngomongin tentang #30hariblogging2. Hmm…. Aku masih belum dapat ide. 
Setelah liat-liat komennya ternyata ada geng baru, Imza Hera Wati. Selamat bergabung Imza Hera Wati. Di dunia tulisan, mari berbagi segala hal yang tak bisa dibagi di dunia nyata, dengan rasa terbuka, tanpa rasa curiga terhadap sesama. Hehe…
Pukul 2an siang
Tetep mentok, belum ada ide. Aneh, raiterblok tu kan biasanya muncul saat ditengah proses penulisan, bener gak sih? dari awal udah raiterblok duluan. Gimana selanjutnya entar? Tapi belum tentu juga sih, bisa jadi ke sananya lebih mudah dapat ide. Akhir dari sesuatu itu tidak ditentukan oleh awal, justru akhirlah yang menentukan awal . Ya, setidaknya itulah yang pernah aku dapatkan dari Bapak Mario Teguh. Hmm… super sekali.
Pukul 5an sore
Setelah beberapa lama mikir (sebenarnya sih mikirnya bukan gak berhenti-berhenti, makan dulu, nonton dulu, ngerokok dulu, dddl (baca: dan dulu-dulu yang lain)) ide itu akhirnya muncul juga. Berdiri di samping pintu sembari merhatiin butiran-butiran hujan yang berjatuhan, akupun menemukan ide apa yang harus ditulis. Ya, inilah tulisan dari hasil ide yang aku dapatkan. Sebuah ide yang sederhana, sangat-sangat sederhana yang tak sesederhana cara mencarinya, haha…. Luebay.



Tuesday, September 11, 2012

Celah Kisah

Aku tak menganggapmu tinggi
Karena kau tak menganggapku rendah
Kau, aku, hmmm… Kita, kita seirama
Seperti irama angin sepoi yang tak tergugah
Walau kita tak selangkah
Aku tahu kita searah
Walau terbelah
Bukan berarti kita terpecah
Kita hanya berdiam dalam celah kisah yang meliuk ke bawah
Bukan bersandar pada bongkahan resah
Atau dinding gelisah pada rumah tak bertuah
Dan kini, biarlah….
Biarlah semua ini berhembus menerobos gumpalan awan cerah
Karena kita kan melihat indah bunga matahari yang merekah