Pages

Monday, January 14, 2013

#Day9 Bebas Terbatas


Jika ada keharusan untuk memilih
      1.      Hanya tiga kata apa yang akan kau ucapkan untuk merepresentasikan dirimu,
      2.      Hanya tiga tempat yang akan kau tempati dan bermain-main di dalamnya,
      3.      Hanya tiga orang yang kau ingin hidup bersamanya,
      4.      Hanya tiga jenis makanan dan minuman untuk kau konsumsi,
      5.      Hanya tiga jenis pakaian untuk kau kenakan,
      6.      Hanya tiga jenis alat yang akan kau gunakan untuk hidupmu,  
      7.      Hanya tiga jenis waktu yang boleh kau jalani,
Apa dan siapa yang akan kau pilih?
Bersyukurlah, saat ini kau tak perlu memilih pilihan-pilihan di atas karena masih begitu banyak pilihan yang bebas untuk kau pilih. Tapi ingat kau bebas tapi terbatas oleh pilihan-pilihan orang lain yang juga bebas memilih. Makanya, banyak sekali pilihan dan mimpimu yang belum bisa kau raih karena sudah dipilih dan diraih oleh orang lain. Dan akan hanya ada dua kemungkinan dengan pilihan dan mimpi-mimpimu, kau menunggu giliran atau kau tak kan pernah sama sekali mendapatkan giliran.
Sekarang, jalani saja giliran yang kamu miliki dengan sepenuh hati, karena membenci, mencaci, dan menyesali yang kau jalani sama saja membenci, mencaci, dan menyesali hidupmu, dan hidupmu adalah dirimu sendiri.

#Day8 Arah


Langkah ini bukan langkah lelah
Hanya sesekali berhenti melihat arah
Bukan karena kaki mulai goyah
Hanya saja untuk merasakan getaran yang mulai tak terasah
Kemudian ku petik, ku dengar alunan kecapi
Yang berlari di setiap melodi
Yang kadang tak memiliki arti
Tapi mampu dipahami
Dan biarkan aku mengejarnya, merasakannya sendiri.


Sunday, January 13, 2013

#Day7 Roads Untraveled

Di postingan kali ini saya cuma pengin posting lirik lagu terbaru Linkin Park dari album Living Things yang judulnya sudah saya tulis di atas. Kenapa saya posting lirik tersebut? soalnya lagunya keren banget (buat saya, gak tahu buat orang lain). Liriknya sederhana tapi sangat bermakna and pas didengerin tuh lagu, rasanya adem. Cobain deh kalo nggak percaya. Selain itu, lirik lagu ini saya pikir ada kaitannya dengan dua postingan saya sebelumnya.


weep not for roads untraveled
weep not for paths left alone
'cause beyond every bend
is a long blinding end
it's the worst kind of pain
I've known

give up your heart left broken
and let that mistake pass on
'cause the love that you lost
wasn't worth what it cost
and in time you'll be glad it's gone

weep not for roads untraveled
weep not for sights unseen
may your love never end
and if you need a friend
there's a seat here alongside me




#Day6 Sahabat 5cm.


Tujuh bulan yang lalu saya berkenalan dengan sebuah novel yang berjudul 5cm.. Sebuah novel yang mungkin lebih terkenal setelah muncul versi filmnya. Novel tersebut sedikit banyak memberi pengaruh terhadap saya. Pengaruh yang menjadikan saya melihat bahwa selama ini saya terlalu berharap terhadap sebuah harapan yang sebenarnya saya sadari bahwa harapan tersebut susah untuk menjadi kenyataan.

Selama empat tahun saya berkutat di dunia kampus, saya memiliki harapan untuk bisa berbagi dengan teman-teman di kampus saya. Berbagi segala hal; berbagi gagasan, berbagi ide untuk bisa saling berbagi, berbagi pengalaman, berbagi impian, intinya berbagi. Tapi ternyata, harapan yang saya bangun seringkali hanya setengah jalan. Ketika saya ingin berbagi, seringkali saya tak menemukan orang yang bisa saya bagi dan ketika saya berharap ada orang yang bisa berbagi dengan saya pun juga tak benar-benar saya temukan.

Namun demikian, saya tak pernah mengubur harapan itu. Saya selalu meyakini bahwa saling berbagi pada akhirnya juga terjadi karena buat saya pada dasarnya hidup tak akan terasa tanpa berbagi. Tetapi hingga saya lulus pun harapan saya tersebut tak benar-benar terpenuhi. Mungkin ada tapi saya tak benar-benar merasakannya. Hingga akhirnya saya berkenalan dengan 5cm.. Satu hal penting yang saya dapatkan dari 5cm. adalah bahwa jika kita ingin menanam sebuah tanaman di sebuah lahan kemudian tak tumbuh, cari lahan yang lain. Mungkin lahan tersebut bisa ditanami tanaman lain yang lebih cocok. Kemudian saya pun memutuskan untuk berhenti menanam harapan saya tersebut di kampus.

Lalu di mana saya menanamnya? Setelah saya membaca 5cm. kemudian saya iseng mencari komunitas yang berkaitan dengan 5cm. dan saya pun menemukan sebuah komunitas di dunia media sosial yang bernama Sahabat 5cm.. Setelah saya bergabung, ternyata saya mulai mendapatkan tempat untuk berbagi yang saya harapkan. Saya mendapatkan teman-teman baru dari berbagai latar belakang dan berbagai daerah di Indonesia; teman-teman yang selama ini tak pernah saya temui di dunia kampus. Dan kami pun sesekali bertemu di dunia nyata bareng penulisnya, Mas Donny, dengan berbagai aktifitas yang didasari rasa berbagi, bukan karena hak dan kewajiban, bukan berdasarkan sebuah kepentingan yang harus didapat dan dipenuhi sehingga tak kan ada yang merasa merugi. Entahlah, sejauh ini saya cukup mendapatkan perasaan nyaman dengan dunia baru yang saya ikuti ini.  Namun begitu, saya tidak akan sepenuhnya menanam harapan saya di dunia tersebut. Saya harus mencari lahan-lahan lain yang bisa saya tanami harapan-harapan lain yang saya miliki.

#Day5 The Road not Taken

I shall be telling this with a sigh
Somewhere ages and ages hence;
Two roads diverged in a wood, and I--
I took the one less traveled by
and that has made all difference...

          Tak sengaja saya menemukan sebuah puisi yang pernah saya pelajari dulu; The Road not Taken karya Robert Frost. Ya, sebuah puisi yang yang gagasannya pernah digunakan dalam iklan susu Be***c sedikit membuat saya berfikir tentang apa yang saya alami dan saya dapatkan sekarang. Saya sengaja mengutip bait terakhir karena saya pikir bait inilah yang menjadi poin panting untuk saya lihat dan saya renungi.
           Sejatinya hidup memang pilihan, dan setiap orang  harus benar-benar berusaha membuat sebuah pilihan yang tepat dalam menjalani hidup. Tapi ternyata, pada awalnya saya pikir hal tersebut hampir tidak berlaku dalam hidup saya. Saya hampir tak benar-benar memikirkan pilihan. Filosofi "Hiduplah seperti air sungai yang tetap mengalir apa adanya walaupun ada bebatuan di depannya " secara tak sadar saya ikuti. Memang di satu sisi saya hampir tak pernah merasa berat, terbebani, ataupun menyesal dengan permasalahan hidup yang saya alami, dengan menjadi air yang terus mengalir walau menabrak bebatuan, tapi di sisi lain saya kadang tak bisa mengontrol aliran hidup yang terus mengalir. Ya, layaknya air mengalir saya terus mengalir tanpa bisa berhenti, tanpa "bisa" berkata tidak, tanpa bisa menoleh sejanak ke hulu, tanpa bisa menjadi batu. Dan akhirnya saya tidak benar-benar mengerti jalan apa yang saya lalui, karena saya tak benar-benar memilih. Saya mengalir.
          Mungkin benar apa yang dikatakan Frost bahwa seseorang tidak bisa melewati dua jalan secara bersamaan tapi setidaknya dia harus tahu jalan apa yang dia jalani, kenapa jalan itu yang dia pilih, kapan dia harus berjalan, dan kapan dia harus berhenti, tidak seperti air sungai. Tetapi hal-hal tersebut bukanlah hal yang sederhana. Karena ketidaksederhanaan tersebut, saya tetap 'membuatnya' sederhana dengan cara tak terlalu memikirkanya. Ya, saya berjalan begitu saja.
            Namun akhirnya saya sadar bahwa kadang ada saatnya kita mengalir begitu saja dan ada saatnya kita harus mau melawan arus. Ada saatnya ada pilihan yang tak harus dipikirkan, ada saatnya benar-benar harus dipikirkan, dan ada saatnya tak ada pilihan. Kebijakan kitalah yang kemudian berperan penting dalam menentukan kehidupan seperti apa yang akan kita jalani.