Pages

Monday, May 28, 2012

#Day 30: Suara Itu

Suara itu…

Terdengar ramai tapi tak semua mendengar,

Suara itu….

Bukan lagu,

tapi pengingat kalbu yang dirundung pilu atau dibelai rindu,

Suara itu…

Entahlah,, sepertinya ia hanya sekedar suara tak bermakna,

Lalu, suara apa itu?

Suara itu….

Bukan suara terompet sangkakala,

Bukan pula suara malaikat pencabut nyawa,

Suara itu penenang jiwa pelepas dahaga,

Penghapus resah gundah gulana,

Jua derai air mata, bagi yang menghampirinya

Suara itu….
 
Semoga tetap terdengar walau tak ada yang mendengar.

#Day 29: Prediksi

Dua hari lagi #30HariBlogging akan sampai pada titik terakhir. Nah, dengan itu maka saya akan memprediksi apa yang akan mereka posting atau setidaknya kalimat apa yang akan muncul dipostingan ketigapuluh mereka. Berikut prediksi saya:
1.    Topik yang akan dibicarakan pastinya mengenai #30HariBlogging yang akhirnya usai.
2.    Postingan terakhir akan berisikan tentang perasaan plong setelah akhirnya mampu menyelesaikan #30HariBlogging
3.    Postingan akan berisikan tentang suka-duka dalam perjalanan #30HariBlogging
4.    Dalam postingan akan ada beberapa kalimat seperti berikut ini “Alhamdulillah ya, akhrinya kelar juga #30HariBlogging”, “Tidak terasa #30HariBlogging sudah di hari terkhir”, atau kalimat-kalimat lain yang biasanya diucapkan pada akhir sebuah event atau kegiatan.
5.    Bagi yang belum kelar tanggal 30, dalam postingan ketigapuluh mereka aka nada kalimat permintaan maaf karena ternyata mereka belum mampu menyelesaikan sesuai rencana.
6.    Akan ada postingan yang nyinggung-nyinggung tentang jalan-jalan sehabis #30HariBlogging.
 
Saya yakin prediksi saya tepat, setidaknya prosentasenya 85%. Dengan catatan, prediksi ini tidak dibaca oleh para anggota #30HariBlogging hingga postingan terakhir mereka dipublished. Jika prediksi ini dibaca, maka prosentasenya menjadi turun drastis 35% bahkan hingga 5%.

#Day 28: Isi atau Gadget?

Bagi saya, blog merupakan tempat yang menyenangkan di dunia maya untuk dikunjungi. Kenapa menyenangkan? Karena blog menyediakan begitu macam wadah untuk kita berkreasi sekreatif mungkin. Blog bisa digunakan untuk menyebarkan informasi, promosi, menuangkan curahan hati, menuangkan karya tulis ilmiah atau non-ilmiah, dan sebagainya. Bahkan mengatur layout dan mengotak-atik HTML juga merupakan kegiatan yang menarik di dunia blog.
Ada yang berpendapat bahwa semestinya yang harus diperhatikan adalah isi dari blog itu sendiri, tentunya isi yang dimaksud adalah tulisan atau informasi. Ada pula yang lebih suka merancang blognya sedemikian rupa dengan dibubuhi berbagai macam gadget, bahkan saking begitu sukanya dengan gadget-gadget, blognya hanya berisikan gadget-gadget. Bagi saya kedua-duanya penting, dan kedua-duanya harus ada. Jika isinya hanya gadget saja, maka tidak akan ada informasi yang bisa didapat oleh pengunjung, dan jika isinya hanya tulisan saja maka potensi membosankan akan lebih besar.
Namun, yang lebih penting adalah bagaimana menjadikan blog kita terkesan menarik. Setidaknya menarik buat kita yang punya blog. Jika tidak menarik, maka tidak akan ada pengunjung yang akan mengunjungi blog kita, karena pada dasarnya, pemilik blog ingin mendapatkan banyak pengunjung, dan kita sebagai pemilik blog akan malas-malasan mengisi blog kita sendiri.
Semenjak blog ini saya rancang  sedemikian rupa dengan cara memilih tamplate yang saya suka, dan kemudian saya bumbuhi dengan gadget-gadget, saya cukup sering berlama-lama melihat-lihat blog saya. Walaupun kadang hanya sekedar menjalankan kursor saja. Saya menemukan keindahan tersendiri saat melihat blog saya terutama saat menjalankan kursor yang kemudian diikuti oleh taburan warna bintang-bintang. Seolah-olah taburan bintang-bintang di ujung kursor menjadi pengganti bintang-bintang yang cukup susah saya nikmati di dunia nyata. Apa lagi warna-warna taburan bintang-bintang tersebut bisa diganti-ganti kapan saja saya mau.
Namun yang perlu menjadi catatan dalam pemilihan gadget blog adalah pilihlah gadget yang tidak memberatkan blog saat dibuka. Walaupun isi blog menarik dan gadgetnya pun menarik tapi jika gadgetnya memberatkan blog saat dibuka, maka blog tersebut tidak akan benar-benar bisa dinikmati.

#Day 27: Pepatah Bermasalah 2

Maaf Sebelumnya jika judulnya terlalu arogan atau terlalu-terlalu yang lain. Bukan maksud untuk menyalahkan atau tidak menghargai pencipta pepatah-pepatah yang aku sebutkan, toh aku juga tidak menyalahkan, tapi sekedar mempermasalahkan. Mempermasalahkan bukan berarti menyalahkan, karena bisa jadi yang aku anggap bermasalah karena belum aku temukan titik yang tidak bermasalah. Tapi untuk saat ini aku masih menganggap papatah yang aku sebutkan pada postingan sebelumnya, memang bermasalah (sekali lagi bukan salah).
Setelah beberapa kali merenungkan permasalahan tentang pepatah, aku mendapatkan dua kesimpulan bahwa pertama, pepatah bermasalah karena kalimat pepatah tersebut secara logika berlawanan dengan maksud dari pepatah itu sendiri. Untuk yang jenis ini, contoh-contohnya sudah aku sebutkan pada postingan sebelumnya. Kedua, karena pepatah tersebut dipatahkan oleh pepatah yang lain. Untuk kasus ini bisa dilihat dalam contoh pepatah (sebenarnya juga ada dalam postingan sebelumnya) yang mengatakan “Hiduplah seperti lilin, dia rela hancur demi menerangi sekitarnya” dan dipatahkan dengan pepatah lain yang mengatakan “Berkorbanlah, tapi jangan jadi korban!”
Dan ternyata pepatah yang bermasalah itu tidak hanya pepatah-pepatah Indonesia saja. Papatah bahasa Inggris juga bermasalah. Pepatah bermasalah tersebut aku temukan dari update-status temanku yang ternyata menganalisa permasalahan pepatah (ternyata aku ada temenya, hehe). Update-status itu berbunyi “Practice makes perfect. Nobody is perfect”. lalu ngapain harus “practice”?. Permasalahan pepatah ini bisa termasuk dalam kategori permasalahan pepatah yang kedua, yaitu pepatah satu dipatahkan oleh pepatah yang lain, tetapi juga bisa dimasukkan dalam kategori yang pertama. Sebenarnya, menurutku permasalahannya bukan di kata “practice” nya tapi pada kata “perfect”nya. Tujuan dari “practice”, jika dilihat lebih dalam bukan untuk menjadi “perfect” karena “perfectness” itu sendiri tidak ada, tetapi untuk menjadikannya “habit”. Nah, ketika hal yang di “practice” itu menjadi habit, maka kesalahan-kesalahan yang sering terjadi sebelum menjadi “habit” akan berkurang, bukan “no mistakes perfectly”.

Sunday, May 27, 2012

#Day 26: Evaluasi

Sadar atau tidak, tidak atau sadar, semakin lama tanggal semakin tua,
Tanggal semakin tua tulisan semakin gak jelas rupa dan arahnya.
Entah karena tak ada inspirasi atau karena terlalu mengejar inspirasi.
Atau kerena sebentar lagi tanggal satu juni.
Tapi sepertinya semuanya pernah mengalami hal ini.
Ya, satu hal yang biasa terjadi.
Ya, sudahlah. Tulisanku yang ini aku cukupkan dulu sampai di sini.
Dari pada terlalu memaksa diri,
Dari pada malah tak bisa dimengerti,
Setidaknya tulisan ini muncul karena setetes inspirasi.
Yang muncul tiba-tiba saat sepi mengampiri,
-kok gak berhenti-berhenti? katanya sampai di sini-,
Sampai bertemu lagi di postingan yang semoga lebih berisi.
Yang bukan sekedar evaluasi..
Hihihi

#Day 25: Aku dan Tukang Becak

Di pinggir jalan, di depan warteg aku duduk ditemani segelas es teh manis dan sebatang sampoerna mild. Tiba-tiba seorang bapak-bapak datang dan duduk di sampingku.
Bapak      : Ngelamun aja! (Sambil tersenyum)
Aku          : (Membalas tersenyum)
Bapak      : Libur?
Aku          : Ya, Pak.
Bapak      : Kerja di mana?
Aku          : Kuliah Pak.
Bapak      : Kuliah di mana?
Aku          : Di Unisma
Bapak      : Udah semester berapa?
Aku          : semester delapan.
Bapak      : Dah mau lulus donk?
Aku          : Insya Allah, semoga aja lancar, doain ya Pak! (kalo urusan doa, anggap aja bapak sendiri.. he)
Bapak      : Amin…!
Aku          : Bapak sendiri kerja di mana?
Bapak      : Tuh! (sambil menunjukkan sebuah becak bertuliskan “Takdir Ilahi”)
Aku          : Oh,
Bapak      : Kuliah enak ga mas?
Aku          : Hmmm … (aku bingung ngejawabnya) ya, gitu deh Pak! (tau dah dia nangkepnya “enak” atau “gak enak”) kalau tukang becak enak gak pak? (pertanyaan yang tak perlu dipertanyakan)
Bapak      : Hmmm … (wah, pasti copy-paste nih) ya, gitu deh, Mas! (tu kan bener). Berarti sekarang lagi bikin skripsi donk?
Aku          : Ya Pak (tau skripsi juga nih tikang becak).
Bapak      : Susah gak bikin skripsi?
Aku          : Ya, lumayan, Pak. (ni pertanyaan kok semakin aneh)
Bapak      : Lebih susah mana skripsi ama jadi tukang becak?
Aku         : Glek,,, (nelan ludah, bukan nelen es teh manis, makin aneh aja nih pertanyaan) hehe… (aku cuma ketawa gak pake jawab)
Bapak     : Soalnya anak saya dulu waktu semester akhir selama berbulan-bulan gak ngapa-ngapain, nah sekali garap satu minggu udah kelar.
Aku         : Wah, hebat tuh anak bapak. Emang kuliah dimana?
Bapak     : Di Universitas sensor
Aku         : Jurusan apa?
Bapak     : Jurusan sensor
Aku         : Emang anaknya namanya sapa?
Bapak     : Namanya sensor
Aku         : Glek,,, (kali ini nelen es teh manis) uhuk, uhuk,,, (aku kaget, ternyata nama anak yang disebutin oleh bapak itu adalah anak kampus tetangga yang skrispsinya aku buatin, asal copy-paste gitu) 

Friday, May 25, 2012

#Day 24: Burn It Down

The cycle repeated,
As explosions broke in the sky,
All that I needed,
Was the one thing I couldn't find,
And you were there at the turn,
Waiting to let me know,

Chorus:
We're building it up,
To break it back down,
We're building it up,
To burn it down,
We can't wait,
To burn it to the ground.

The colors conflicted,
As the flames climbed into the clouds.
I wanted to fix this,
But couldn't stop from tearing it down.

And you were there at the turn,
Caught in the burning glow.
And I was there at the turn,
Waiting to let you go.

You told me yes,
You held me high,
And I believed,
When you told that lie.

I played solider,
You played king,
Struck me down,
When I kissed that ring.

You lost that right,
To hold that crown,
I built you up,
But you let me down.

So when you fall,
I'll take my turn,
And fan the flames,
As your blazes burn.

And you were there at the turn,
Waiting to let me know.

We're building it up,
To break it back down,
We're building it up,
To burn it down,

[We can't wait,
To burn it to the ground.
So when you fall,
I'll take my turn,
And fan the flames,
As your blazes burn. ] x2

We can't wait,
To burn it to the ground...


Lirik di atas adalah lirik single terbaru Linkin Park yang dirilis pada 15 April 2012 dari album Living Things. Untuk album Living Things sendiri akan dirilis pada 26 Juni 2012. Just check this song out here !. I love it so much and I think you do too. 

Dan berikut daftar lagu dari album Living Things:

1. ‘Lost in the Echo’
2. ‘In My Remains’
3. ‘Burn It Down’
4. ‘Lies Greed Misery’
5. ‘I’ll Be Gone’
6. ‘Castle of Glass’
7. ‘Victimized’
8. ‘Roads Untraveled’
9. ‘Skin to Bone’
10. ‘Until It Breaks’
11. ‘Tinfoil’
12. ‘Powerless’

#Day 23: Dia Anakku

Tangismu terdengar samar-samar
Membelai mimpi indah sang fajar
Kau meminta berjuta cerita suka
Bergelora di setiap rongga dada
Ya, dada, dadaku
Walau berat beban di matamu
Kau tetap bertahan dengan bibir basahmu
“dia anakku” sebutmu
Aku mendengkur tidur di ujung sana
Buta kata-kata cinta
Yang kau untai ke kolong langit ke tujuh
Dan aku acuh
Tapi kau tak peduli aku peduli
Kau tak meminta aku mendengar
Setiap bait doa yang kau tebar
Kau hanya ingin memberi
walau hanya dengan sujud  di atas tikar yang tak lebar
“Tuhan, dia anakku” sebutmu

Tuesday, May 22, 2012

#Day 22: Sang Cermin

Di depan cermin ia berdiri, menatap setiap guratan usia yang semakin lama membuatnya semakin tua. 
“Ah, aku masih muda” katanya sambil sedikit tersenyum “Benar kan?” Tanyanya kemudian pada cermin.
Cermin hanya diam tak berkata, bukan takut tuk menjawab tapi diamnya adalah jawaban. Jawaban antara tidak dan ya. Cermin menjawab dengan jawaban jujur, hanya saja jawaban-jawaban itu harus ia susun kembali menjadi satu jawaban yang utuh sehingga ia bisa mengetahui apa sebenarnya jawaban sang cermin.
Namun, ia masih belum mampu menyusun jawaban-jawaban tersebut, atau ia sudah menyusunnya namun ia belum yakin dengan jawaban sang cermin.
Kemudian ia menyisir rambutnya yang panjang agar terlihat rapi. Mengoleskan cream anti-aging di setiap sudut wajahnya dan tak lupa beberapa goresan lipstik yang ia beli di sebuah kota yang terkenal akan kosmetiknya beberapa bulan yang lalu. Ia berdehem dan berdiri lagi di depan cermin.
“Sekarang bagaimana?” tanyanya serius
Lagi-lagi, cermin warisan dari kakek kakeknya tersebut tak bersuara. Diam seperti adanya. Dan lagi ia harus menyusun kepingan-kepingan diam sang cermin menjadi satu jawaban yang bersuara, ya atau tidak.
Kepingan-kepingan itu terlalu banyak baginya, ia tak benar-benar bisa menyusunnya. Ia kemudian berjalan keluar kamarnya menuju balkon yang menghadap tempat di mana mentari kembali ke peraduannya. Ia menghela nafas panjang sembari membelai daun-daun bunga jasmin yang menjalar lebat di pagar balkon. Ada butiran-butiran sisa air hujan yang menetes dari daun-daun yang ia sentuh. Kemudian ia tersentak dan kembali ke kamarnya.
Sambil membawa gunting ia pergi ke kamar mandi. Ia membersihkan semua hasil make-up yang ia oleskan dan memendekkan rambutnya. Setelah itu ia pun kembali berdiri di depan cermin di kamarnya.
“Bagaimana kalau sekarang?” tanyanya lagi
Dengan jawaban yang sama, cermin itu diam dalam jawabnya, menjawab dalam diamnya.
Ia pun mengambil cermin yang setinggi setengah dari tingginya tersebut dari tempatnya. Menatapnya dengan tatapan tajam dan kemudian menggoncang-goncangkannya.
“Berikan jawaban yang aku mengerti, berikan jawaban yang bisa aku pahami, jangan hanya diam!” teriaknya pada sang cermin. Dan cermin pun tetap diam.
Dan ia pun melemparkan cermin tersebut ke sudut kamarnya.
Suara pecah cermin akhirnya memberikan jawaban. Tapi tetap saja, jawaban itu tak jelas karena setiap pecahan memberikan jawaban masing-masing yang membuatnya semakin pusing dan harus berkeliling mengumpulkan jawaban-jawaban yang berserakan bersama dengan berserakannya pecahan-pecahan cermin tersebut.
Ia pun duduk, tertunduk. Ia lelah. Namun akhirnya ia berdiri lagi menghampiri pecahan-pecahan cermin yang berserakan. Mata manisnya memandangi setiap pecahan kaca. Ia pun mengambil satu pecahan cermin seukuran tangannya yang tepat berada di bawahnya. Ia memandanginya, bercermin dengannya.
“Aku sudah tua,” bisik sang pecahan cermin.