Pages

Monday, July 22, 2013

Ngebolang ke Sumatra # Bangka

Pantai Penyusuk
Setelah tertunda setahun lebih, akhirnya rencana berpetualang ke pulau Sumatra terlaksana. Pada awalnya kami terdiri dari tiga orang; saya, dosen saya, dan adik kelas saya, namun hingga waktu yang ditentukan, adik kelas saya memutuskan untuk tidak ikut dengan beberapa alasan. Tanpa adik kelas, kami pun akhirnya tetap berangkat.

Sebenarnya pulau Bangka tidak masuk pada list destinasi perjalanan kami. Kurangnya pengetahuan dan persiapan yang matang akhirnya mengantarkan kami ke Bangka. Pelabuhan Belinyu yang awalnya kami kira berada di Belitung ternyata berada di Bangka dan itu kami sadari setelah kami berangkat ke Tanjung Priok untuk memesan tiket sehari sebelum keberangkatan kami.

Pada pukul 17.00 WIB, kamis, 7 Februari 2013 kami sudah berada di pelabuhan Tanjung Priok. Namun kami tidak langsung berangkat berlabuh setibanya di pelabuhan. Ya sesuai dengan jadwal yang tercantum di tiket, yaitu pukul 17.00 WIB (Waktu Insya Allah Bergeser). Butuh waktu kurang lebih 7 jam baru kami benar-benar berangkat.

Beberapa hari sebelum berangkat, teman saya yang sebelumnya pernah ke Manado via pelabuhan Tanjung Priok mengingatkan saya “hati-hati kalau di kapal, banyak calonya!”. Saya pun penasaran kok bisa di kapal banyak calonya.

“iya, di sana dek dicaloin dan calonya mainnya gerombolan gitu. Calonya itu nggak kayak calo-calo di terminal ato stasiun. Kalo terminal ato stasiun kemungkinan untuk menolak kalo gak sepakat ato menghindar itu lebih gampang. Dan mereka mainnya itu malak korban. Jadi kalo udah masuk kapal, jangan langsung nyari dek kalo bingung, tunggu aja di bagian belakang. Kalo ada yang nanya-nanya gak usah dijawab. Kalo kapal udah berangkat baru masuk ke dalem” Jelasnya.

Jujur, penjalasan temen saya membuat saya sedikit khawatir. Apalagi apa yang dia jelasin, yang begitu banyak kalo-kalonya, nggak membuat saya bener-bener ngerti, khususnya bagian belakang yang dia maksud. Penyebabnya tentu karena ini pengalaman awal saya melakukan perjalanan jauh menggunakan kapal.

Apa yang temen saya ceritakan ternyata benar adanya. Saat kami memasuki kapal, kami melihat ada gerombolan orang yang tiba-tiba narik beberapa penumpang dan nganterin mereka ke dek kosong (baca: belum ditempati). Setelah itu, mereka meminta bayaran dangan cara membentak-bentak penumpang tersebut. Tentunya penumpang tersebut merasa ketakutan untuk melawan, karena yang dihadapinya bukan sendiri, tapi tiga sampai lima orang. Akhirnya, si penumpang pun dengan tangan gemetar dan keringat dingin menyerahkan beberapa uang yang jumlahnya bisa sampai ratusan ke orang-orang tersebut.

Perasaan kasian pada penumpang yang jadi korban pemalakan tiba-tiba muncul, bercampur dengan perasaan geram terhadap para pemalak. Namun apa daya, saya tak mampu berbuat apa-apa terhadap kejadian yang terpampang jelas di depan mata saya. Yah, inilah potret kehidupan rakyat Indonesia yang katanya negerinya kaya-raya tapi masih ada rakyatnya yang ‘harus’ hidup dengan cara begituan. Ini pelajaran kedua yang saya dapati pada petualangan ini, selain molornya jadwal yang sampai berjam-jam.
Untungnya kami bertemu dengan seorang bapak-bapak pedagang sepatu (saya lupa namanya) yang juga naik kapal yang sama. Beliau sudah tujuh tahun bolak-balik Tanjung Priok-Tanjungpinang, Kepulauan Riau. Selain itu, kami juga bertemu dengan seorang mas-mas (saya lupa nggak nanya namanya) yang juga baru pertama kali naik kapal via Tanjung Priok. Kamipun meminta bapak tadi untuk menjadi ‘pemandu’ sekaligus bodyguard kami :D dan Alhamdulillah kami terhindar dari ‘pemalakan’ para calo-calo kapal.
 
Dua orang temen seperjalanan kami
Perjalanan Tanjung Priok-Belinyu ditempuh selama tiga hari. Selama itu saya memperhatikan banyak hal yang perlu dibenahi oleh negeri ini (khususnya pemerintah) tentang pelayanan publik. Sepertinya, jaminan rasa aman kurang benar-benar diperhatikan. Hal itu bisa dilihat dari tidak adanya pengawasan baik dari pihak kapal maupun pihak yang berwajib. Selain itu, praktek monopoli di atas kapal sangat terasa. Harga barang-barang yang dijual begitu mahal, tiga hingga lima kali lipat. Bahkan kasur yang seharusnya (kata temen saya) gratis juga ‘dijual’. Fasilitas yang disediakan pihak kapal juga jauh dari kata layak, seperti toilet. Toilet yang ada sudah tak jelas bentuknya. Bahkan saya harus mandi pada waktu tengah malam karena kalo saya mandi pada sore atau pagi hari saya akan sangat kerepotan, satu tangan saya memegang sabun dan tangan yang lain harus memegang pintu yang tak bisa ditutup jika tak dipegang. Balum lagi makanan yang disediakan pihak kapal yang menurut saya jauh dari kata layak. Entahlah, apa ini hanya kebetulan saya dapet kapal yang kurang bagus.

Pukul 04.00 WIB kami tiba di Belinyu. Langit masih gelap. Kami memutuskan untuk singgah di musholla deket pelabuhan sambil menunggu waktu subuh dan jemputan. Pelabuhan Belinyu terbilang pelabuhan kecil, tapi walaupun masih gelap, saat itu cukup ramai oleh kendaraan antar kota.

Berbeda dengan daerah-daerah lain, di Bangka hampir tidak ada kendaraan umum jarak dekat. Oleh sebab itu, mayoritas masyarakat Bangka memiliki kendaraan sendiri. Transportasi yang ada hanya untuk jarak jauh, misalnya pelabuhan Belinyu-pelabuhan Mentok dan Belinyu-Bandara, itu pun hanya beroperasi sehari sekali, yaitu pukul 07.00 WIB. Bahkan jasa angkut macam ojek dan becak juga tidak ada.
Untuk berkeliling tempat-tempat bagus di pulau Bangka, kami menggunakan sepeda motor teman. Uniknya lagi, selama tiga hari di Belinyu, saya baru sekali ngeliat orang make helm, itu pun yang dibonceng, bukan yang ngebonceng :D.
Bareng Gaed P. Bangka

Beruntungnya kami memiliki teman asli Belinyu yang kami baru sadari waktu kami dalam perjalanan Tanjung Priok-Belinyu. Saya pikir kami akan kesulitan untuk keliling Bangka jika kami tidak memiliki kenalan.
Di Belinyu, saya melihat kehidupan masyarakat yang begitu beragam, dari asal suku, agama, bahkan kulinernya. Keberagaman ini terlihat begitu indah. Orang-orangnya ramah dan lingkungannya aman. Bahkan saya pernah lupa meninggalkan motor di luar penginapan dengan kuncinya semalaman dan tak ada yang mengotak-atik ?.

Batu Dinding
Namun, kalo ngomongin tempat wisata, menurut saya Belinyu hampir sama dengan Belitung. Wisata di Belinyu berupa pantai dengan bongkahan-bongkahan batu besar mirip dengan pantai-pantai yang ada di film Laskar Pelangi. Konon katanya Bangka dan Belitung dulunya satu pulau dan inilah yang mungkin menyebabkan keduanya memiliki banyak kemiripan.
Pantai Romodong


Sunday, February 3, 2013

#Day17 Ngebolang 1


“450 mas,” kata si agen.
“itu H-3?” tanyaku, “kalo H-2 atau H-1?”tanyanku sebelum si agen menjawab.
“sama mas,” jawabnya

Aku diam sejenak, “kalau 450 berarti sisanya 150 dong,” pikirku “tapi kan aku nggak perlu bingung-bingung lagi dan pasti lebih nyantai,” ujar pikiranku yang lain. “nggak apa-apalah,” akhirnya bisikan-bisikan pikiranku sepakat.

“Tapi semua udah habis, mas, sampe H+5” ujar sang agen seblum aku bilang kalau 450 bukan masalah.

Akhirnya ku langkahkan kakiku untuk bertanya ke tempat lain, namun semua jawaban sama, habis.
“hmmm…. Ngebolang nih jadinya. Nggak ada pilihan lain,” tegasku dalam hati.

Karena belum pernah ngebolang Jakarta-Madura, dua hari sebelumnya aku nyoba buat ngumpulin informasi baik dari temen-temen maupun internet. Alhasil, akhirnya rute yang aku pilih adalah Bekasi-Cirebon, Cirebon-Semarang, Semarang-Surabaya, dan Surabaya-Madura.

Dari informasi yang aku dapat, tempat yang harus aku waspadai adalah terminal Cirebon. Soalnya di terminal tersebut katanya terkenal akan calonya. Selain itu aku pikir tak ada masalah kecuali Semarang. Di semarang ada dua terminal dan aku nggak tahu bis yang dari Cirebon berhenti di terminal yang mana.

Akhirnya ku putuskan berangkat setelah Jum’atan. Menurut perkiraanku, Sabtu sore aku sudah di rumah, dan aku masih sempet buka bareng sama keluargaku sebelum besoknya lebaran. Namun, perkiraanku ternyata meleset. Beberapa kilometer sebelum pintu keluar Cikopo jalanan cukup macet. “Sepertinya malem Minggu baru nyampe rumah,” pikirku.

“yang Cirebon, yang Cirebon,” tiba-tiba teriak kondektur jurusan Cirebon masuk ke bis yang aku tumpangi mencari penumpang.

Tanpa pikir panjang aku pun langsung keluar dan ku lihat bis jurusan Cirebon tidak jauh dari bis yang aku tumpangi. Setelah masuk ke dalam, aku pun begitu kaget karena ternyata penumpang yang ada dalam bis begitu banyak yang berdiri. Aku pun tetap memutuskan untuk ikut bis tersebut karena nggak mungkin aku diam di jalan tol menunggu bis Cirebon yang lebih longgar.

Tidak lama kemudian bis Cirebon (aku lupa nama bis yang sebenarnya) bergerak perlahan dan akhirnya keluar dari Cikopo. Saat itu jam menunjukkan pukul 4 lebih. Namun saat nyampe di Cikampek, jalanan begitu macet. Saking macetnya bis yang aku tumpangi baru bisa bergerak cukup lancar pada pukul 11 malam. Itu pun hanya untuk beberapa saat.

Saat nyampe di Indramayu kira-kira Subuh dan ku lihat jalanan juga macet melebihi macetnya jalanan di Cikampek. Jalur jalan yang seharusnya dua arah, menjadi satu arah. Kendaraan dari arah berlawanan pun nggak bisa gerak. Terlebih setelah para pemudik yang menggunakan sepeda motor dan bemo mulai bermunculan. Jalanan bener-bener terlihat tak karuan. Asap dan debu yang beterbangan pun memperparah kondisi jalanan. Pukul tiga sore akhirnya bis Cirebon nyampe di terminal Cirebon. Perjalanan yang seharusnya hanya enam jam menjadi 24 jam.

Sesampainya di Cirebon aku pun mencari bis jurusan Semarang. Dan Alhamdulillah jalanan Cirebon-Semarang cukup lancar. Sampai di Semarang kira-kira pukul 8 malam. Dan aku mulai khawatir karena sepertinya aku sampai di rumah setelah sholat Id. Sesampainya di Semarang, di terminal lama, tanpa kesulitan aku dapat bis jurusan Surabaya. Aku pun cukup lega dan berharap masih ada bis jurusan Madura saat aku sampai di sana. Bis Semarang-Surabaya pun berangkat pukul 9an malam dan menurut kondektur akan nyampe di Surabaya pukul sekitar pukul 2 pagi. Benar saja, jam 2 pagi lebih bis nyampe di Surabaya.
“Madura, Madura, terakhir, terakhir,” teriak kondektur bis Madura di terminal Bungurasih Surabaya.

Aku pun lekas-lekas naik bis tersebut. Menurutku bis yang ku tumpangi akan nyampe di terminal Pamekasan kira-kira jam 6 pagi atau jam 7, lebih cepat dari biasanya, karena jalanan cukup lengang pada saat dini hari. Itu artinya aku bisa ikut sholat Id di Masjid deket terminal. Namun ternyata perkiraanku meleset lagi. Saat ku pijakkan kakiku di terminal Pamekasan, ku dengar sayup-sayup suara imam masjid sedang mengimami sholat Id.

“Gak sholat Id nih,” pikirku. Aku pun duduk istirahat menunggu jemputan datang.



Thursday, January 31, 2013

#Day16 Tuhan Terpenjara

Tuhan terpenjera
Di setiap tembok berkubah yang menjulang ke angkasa
Tuhan terpenjara
Pada bingkai hati yang sengsara
Tuhan terpenjara
Pada setiap derai air mata dan doa pilu nestapa
Tuhan terpenjara
Pada sekat akhirat yang melegenda
dan pekat dunia nyata
Tuhan terpenjara
Saat kehadirannya ketika tak ada tawa
Selebihnya, Tuhan tak pernah ada


Saturday, January 19, 2013

#Day15 Dipublish atau Enggak ya?

          Pada saat #30hariblogging jilid pertama, setiap kali saya sudah menulis untuk postingan di blog saya seringkali befikir "dipublish gak ya?". Pikiran itu muncul karena ada perasaan ragu bahwa apa yang saya tulis tidak akan dipahami orang yang membaca tulisan saya. Kadang saya juga merasa bahwa tulisan saya tidak ada kualitasnya sama sekali, membosankan, tidak menarik, atau kadang-kadang saya merasa malu dan takut jangan-jangan orang akan dengan mudahnya menilai saya melalui apa yang saya tulis.

         Tiba-tiba saya teringat masa-masa awal saya kuliah. Setiap ada tugas writing  saya selalu merasa ragu untuk mau membacakan hasil tulisan saya. Tapi alhamdulillah, berkat dorongan para dosen, saya selalu berfikir "ngapain takut atau ragu? udah nulis tapi gak mo dibaca kan sayang". Hal ini jugalah yang kemudian mendorong saya untuk mempostingan setiap tulisan saya pada #30hariblogging jilid pertama, walaupun saya tidak benar-benar yakin kalau tulisan saya menarik atau tidak.
         
         Bertemu lagi dengan aktifitas blogging selanjutnya, #30hariblogging jilid dua, saya juga pada awalnya merasakan perasaan-perasaan negatif seperti yang saya sebutkan di atas. Hingga akhirnya saya bertemu dengan sebuah kicauan di Twitter yang isinya kurang lebih seperti ini, "Menulis merangsang pemikiran. Jadi saat anda tidak bisa memikirkan sesuatu untuk di tulis, tetaplah mencoba untuk menulis." Kicauan tersebut kemudian membuat saya tak ragu lagi untuk memposting setiap hasil tulisan saya.
        
        Bagaimanapun juga tulisan-tulisan yang saya posting merupakan sebuah hasil pemikiran saya. Sayang jika apa yang sudah saya tulis kemudian saya buang begitu saja. Atau setidaknya jika kemudian tulisan yang sudah saya tulis kemudian tidak saya publish, sepertinya hal tersebut akan membuat saya malas untuk menulis karena selalu merasa tulisan saya jelek. Akibatnya, saya akan menunggu hingga akhirnya saya mendapatkan ide tulisan yang menurut saya bagus, walaupun sebenarnya bisa jadi sama jeleknya.
       
        Intinya, saya berusaha untuk selalu berproses. Hasil bukanlah hal pertama dan paling utama. Jika selalu memikirkan hasil, saya mungkin tidak akan pernah menulis. Yang paling utama adalah proses untuk selalu belajar menulis. Bagaimanapun dan seperti apapun tulisannya, selama itu tidak menyinggung dan menyakiti orang lain dan 'saya merasa' bahwa tulisan itu layak untuk dipublish, maka saya akan mempublishnya.

        

Friday, January 18, 2013

#Day14 Berpura-puralah

Hidup itu hanya kepura-puraan. Semakin pintar kita berpura-pura semakin menentukan hidup kita. Setidaknya itulah yang pernah saya simpulkan dari penjelasan dosen saya 2 tahun yang lalu.

Jadi, jika ingin jadi orang kaya berprilakulah layaknya orang kaya. Bekerja dengan giat. Bertahan dengan letih. Merasa banyak harta walau sebenarnya pas-pasan. Berbagi dan bersedekah layaknya orang kaya (yang bersedekah) walau tak banyak. Jika ingin miskin, lakukanlah kepuraan yang sebaliknya.

Jika ingin jadi pintar bersikaplah seperti orang pintar. Belajar dengan rajin. Belajar tidak hanya dari bangku sekolah dan kurangi keluh-kesah. Jika ingin bodoh, bertingkahlah layaknya orang bodoh.

Jika ingin bahagia bertingkahlah seperti orang bahagia. Tetap tersenyum walau banyak masalah. Tetap tenang dan tak gundah. Tidak merasa terbebani oleh segala hal yang berat. Jadikan Allah teman di setiap langkah. Jika ingin susah, ya anggap aja setiap yang dilalui dalam hidup sebagai petaka.

Jika ingin jadi penulis,
Jika ingin jadi pengajar,
Jika ingin jadi pengusaha,
Jika ingin jadi programmer,
Jika ingin jadi yang lainnya,
Ya, berpura-puralah layaknya yang kita inginkan.

Thursday, January 17, 2013

#Day13 Hujan

Hujan itu berkah
yang mampu menyejukkan rongga hidup yang gerah
Hujan itu bukan musibah
yang tak perlu sumpah serapah
Hujan itu indah
Ya, indah
Seindah kasih Tuhan yang tak pernah lelah
Hujan itu anugrah
yang mampu hidupkan bunga-bunga yang lama tak merekah
lalu kenapa manusia menganggapnya salah
saat ia turun mereka menyebutnya masalah
lalu menjadikannya sebagai alasan tuk berkeluh kesah
Entahlah.

Wednesday, January 16, 2013

#Day12 Nanya Film

          Ada dua film yang sampe sekaranng saya belum ngerti apa maksudnya, jalan ceritanya, hubungannya apa, pokoknya nggak ngerti. Cloud Atlas dan Triangle. Menurut saya, jika dilihat dari polanya, kedua film tersebut hampir sama dengan film The Hours, Inception, dan Vintage Point. Cuma  ketiga film tersebut saya ngerti, setidaknya pada akhir cerita saya bisa bilang "Oh, gitu toh" atau "oh gini tah". Tapi kalau Cloud Atlas dan Triangle sampek akhir saya cuma bisa bilang, "ni film maksudnya apaan sih?".
          Ada yang bisa bantu gak? tolong donk!







*Lagi malas nyari jawaban sendiri
*Lagi gak nemu bahan yang mo dibahas buat postingan
*Itung2 ngurangin utang postingan walaupun pendek banget

Tuesday, January 15, 2013

#Day11 Belajar dari Fiksi


          Belajar kehidupan tidak selamanya tidak selamanya harus dari kenyataan yang kita lihat. Fiksi juga bisa menjadi sumber pembelajaran hidup. Saya masih ingat apa yang pernah diajarkan oleh salah satu dosen saya yang mengatakan “dari fiksi kita bisa memanusiakan manusia.” Pada awalnya saya tidak memahaminya, namun kemudian saya mengerti bahwa fiksi memberikan banyak pelajaran hidup. Kenapa? Fiksi sendiri merupakan representasi kehidupan nyata. Saya sendiri sering tiba-tiba berkata seperti ini, “oh ya, ya” atau “wow”saat membaca atau berdiskusi tentang fiksi. Maka juga tak heran jika banyak orang yang menangis, tertawa, takjub, dan mungkin memiliki ekspresi-ekspresi yang lain saat menonton atau membaca fiksi.
          Beberapa bulan yang lalu saya memahami bahwa fiksi bisa dipahami sebagai sebuah upaya mengkonstruksi atau merekonstruksi sebuah pemahaman tentang realitas. Saya tidak mengingkari hal tersebut karena memang banyak fakta yang terjadi justru karena dipengaruhi oleh fiksi. Secara sederhananya, antara fakta dan fiksi tidak bisa dipisahkan. Nah, di sinilah sisi-sisi menarik yang bisa kita pelajari.
          Dalam beberapa hari ini saya menonton beberapa film yang kebanyakan diangkat dari novel. Saya menemukan banyak hal menarik yang bisa menjadi pelajaran buat kehidupan saya. Di antara hal-hal menarik yang bisa dijadikan pelajaran hidup adalah adanya beberapa ungkapan-ungkapan baik dari karakter maupun narrator. Namun demikian, dalam postingan kali ini saya tidak akan membahasnya. Saya hanya akan mengutip beberapa kutipan dari film tersebut yang menurut saya menarik. Kutipan-kutipan tersebut di antaranya adalah:
“You is kind, you is smart, you is important” (The Help)
Start appreciating the memories you have and stop begrudging the ones you never got to make” (The Lucky One)
“It's easy to misunderstand something when you hear it out of context” 
(We Need to Talk about Kevin)
“Truth is singular. Its versions are mistruths” (Cloud Atlas)
“Whoever saves one life, saves the world entire” (Schindler’s List)


Monday, January 14, 2013

#Day10 The Help


Pada postingan kali ini, saya mencoba untuk mengulas film (secara sangat singkat sekali) yang pernah saya tonton. Soalnya sudah lama sekali saya tidak mengulas film (lebih tepatnya nggak pernah). Judul film yang akan saya ulas adalah The Help. The Help merupakan sebuah film yang diadopsi dari sebuah novel dengan judul yang sama, karya  Kathryn Stocket. Film tersebut dirilis pada 2011 sedangkan novelnya diterbitkan pada 2009.

Film tersebut berkisah tentang kehidupan masyarakat Amerika pada tahun 60an yang menganggap bahwa orang kulit hitam berada di level yang lebih rendah daripada orang kulit putih. Salah satu karakter yang bernama Skeeter ingin menulis sebuah buku yang menggambarkan tentang kehidupan orang-orang kulit hitam yang saat itu kelas sosialnya hanya sebagai pembantu bagi orang kulit putih. Keinginan ini muncul setelah Skeeter melihat sikap temannya dalam memperlakukan pembantu mereka. Namun, hal tersebut bukan hal yang mudah karena pada saat itu undang-undang yang berlaku melarang orang-orang Amerika menulis tulisan yang berkenaan dengan orang kulit hitam.

Dengan bantuan Aibeileen, salah seorang kulit hitam, Skeeter mulai menulis kisah orang kulit hitam. Pada awalnya Aibeileen tidak mau membantu Skeeter dalam penulisan tersebut, namun akhirnya dia pun mau bahkan pada akhirnya dia mampu mengajak tetangga-tetangganya yang lain yang memiliki profesi yang sama. Skeeter sendiri pada masa kecilnya pernah diasuh oleh seorang pembantu kulit hitam yang bernama Constantine yang kemudian alasa kepergiannya tidak diketahui oleh Skeeter. Skeeter pun menuliskan kisah hidup Constantine bersamanya. Buku yang dia tulis kemudian diberi judul “The Help”.

Menurut saya, film tersebut sangat menarik dan sangat saya rekomendasikan untuk ditonton. Walaupun bercerita tentang permasalahan ras yang menurut saya cukup serius, tapi ada sisi-sisi yang lucu yang kadang membuat saya tertawa sendiri saat menontonnya. Untuk lebih detailnya silahkan tonton filmnya.